Kuliah Daring: Masalah dalam Masalah
Kebijakan dari kampus UTM (Universitas Trunojoyo Madura) diperpanjang hingga bulan Juni kedepan. Kebijakan berupa pembelajaran daring, yang dianggap sebagai jalan keluar untuk situasi saat ini. Sebab himbauan dari pemerintah untuk jaga jarak guna memutus penyebaran COVID-19, yang saat ini sudah menjadi wabah di seluruh dunia, menyerang semua kalangan tidak hanya yang kaya yang miskin pun kena dampaknya. Semua profesi pun bisa menjadi korban dari virus korona ini.
Tapi segala kebijakan tentunya ada konsekuensi yang menyertai. Seperti kebijakan dari kampus, untuk melakukan pembelajaran daring. Pembelajaran secara daring tidak sepenuhnya efektif untuk dijadikan sebagai tolok ukur keaktifan mahasiswa. Perpanjangan masa pembelajaran daring, bisa dikatakan sangat merugikan dari pihak pengajar maupun mahasiswa itu sendiri. Bagaimana tidak jika dilihat dari metode pembelajaran terbaik dari satu individu, sedang cara pembelajaran individu itu berbeda dari satu dengan yang lain. Tak hanya itu ada beberapa kendala seperti;
1. Absensi mahasiswa
Pada masa kuliah daring ini, presensi mahasiswa tergantung pada kehadiran absensi di aplikasi semata, serta penugasan yang secara mendadak diberikan oleh dosen. Namun, perkuliahan secara daring dibutuhkannya sinyal yang bagus dan lancar serta penggunaan aplikasi yang disesuaikan dengan keinginan dosen, juga mempersulit pembelajaran. Pemakaian aplikasi tiap dosen yang berbeda. Bisa dilhat dari dampaknya, mahasiswa bisa curang. Seperti hanya sekedar absen lalu ditinggal tanpa mengikuti atau pun menyimak penjelasan dosen maupun teman yang persentasi. Ini terlihat jika mahasiswa lebih mementingkan kehadiran dari pada pemahaman akan materi yang diberikan.
2. Waktu mengajar dosen yang tidak sesuai jadwal
Waktu mengajar dosen yang tidak sesuai jadwal yang ada, tidak semua memang. Tapi ada juga dosen yang seperti ini. Pada jadwal tercantum jam 10.00, bisa molor dari jam yang seharusnya. Ada juga dosen yang memberi tugas dan waktu pengumpulan yang terbilang memudahkan mahasiswa, hingga mahasiswa menganggap remeh dan tidak mengerjakan tugas. Waktu pembelajaran yang tidak sesuai jadwal ini juga bisa mempengaruhi kehadiran mahasiswa, akibatnya jika mahasiswa yang memilik masalah dan gangguan pada sinyal ataupun kuota, tidak bisa mengumpulkan tugas, atau hanya sekedar absen.
3. Tugas yang cenderung dipersulit.
Penugasan dari dosen pun dipersulit, tak hanya dari segi kehadiran mahasiswa dan tugas yang diberikan tetapi juga untuk pengumpulan tugas yang terbilang tidak mudah. Ini juga dikarenakan sinyal. Seperti yang kita tahu jika pengumpulan tugas melalui jaringan di butuhkannya sinyal yang bagu dan lancar. Ada pula dosen yang mengharuskan mahasiswa menulis ulang apa yang dikerjakan.
4. Pemakaian aplikasi yang kurang efektif.
Kuliah daring ini tentunya membutuhkan aplikasi, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya jika kuliah daring ini dibutuhkan aplikasi yang menurut dosen efektif. Namun, pada kenyataannya aplikasi yang digunakan dosen satu dengan yang lain, itu sesuai dengan keinginan dosen. Bagaimana jika tiap mata kuliah berbeda aplikasi. Versi dari ponsel yang digunakan oleh mahasiswa pun terkadang tidak mendukung aplikasi yang dijadikan media belajar.
Jika hal ini masih tetap berlanjut, apa tidak merugikan? Apalagi bagi mahasiswa dan dosen yang diharuskan membeli kuota, sedang kita tahu jika di utm sendiri bantuan masih belum tersalurkan. Pemberhentian kegiatan belajar mengajar secara offline sudah diberlakukan sejak Maret ini belum juga ada bantuan, memang sudah ada surat edaran jika akan diberikan bantuan sebesar 150 ribu rupiah per mahasiswa yang membutuhkan. Namun masih banyak hambatan yang mengganggu kelancaran untuk memberikan bantuan. Beberapa mahasiswa yang mengeluhkan tidak punya ATM ataupun buku ATM yang tertinggal di kos dan lain sebagainya, ini dikarenakan kebijakan yang mengharuskan penggunaan rekening milik mahasiswa pribadi.
Kebijakan dari rektor yang dimulai dari tanggal 17 Maret 2020 yang saat ini diperpanjang hingga Juni mendatang. Jika dihitung kita akan melaksanakan ini, kurang lebih tiga bulan waktu yang tidak sebentar memang. Bagaimana supaya kuliah secara online atau daring ini agar lebih efektif, apalagi sebentar lagi kita akan memasuki ujian akhir semester. Pada ujian tengah semester yang lalu saja belum maksimal. Saat ini nilai ip tergantung pada sinyal. Serta pemahaman materi yang di berikan tidak seutuhnya paham, hanya berbagi power point, beri ringkasan materi, jika mahasiswa diberi kesempatan untuk bertanya belum tentu dibalas untuk dijawab, meskipun dijawab tidak semua mahasiswa memahami materi.
Semakin diperpanjang, akan semakin mempersulitkan, kebijakan perpanjangan waktu ini terlalu jauh dari waktu yang diberikan oleh Gubernur Jawa Timur. Tapi jika perpanjangan adalah solusi yang lebih baik, sebaiknya bantuan segera disalurkan, terutama dalam bentuk kuota, karena jika dengan pulsa takutnya ketika data tidak mati habis, bisa menyedot pulsa, jadinya pulsa habis dan tidak dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa yang membutuhkan.
Waspada memang lebih baik diawal, ikuti anjuran pemerintah adalah yang terbaik. Untuk keputusan selanjutnya, semoga termasuk keputusan yang terbaik, disamping itu dosen maupun pihak pengelola bisa lebih aktif untuk mengevaluasi mahasiswanya. Jika ada laporan keterlambatan karena sinyal mohon dimaklumi.
Tetap berdo'a kepada Tuhan , berdo'a segera diangkat pandemi ini, yang sehat tetap sehat, yang sakit cepat sembuh, bagi keluarga korban yang meninggal semoga diberi ketabahan.
Semangat pahlawan yang kini berjuang di garda terdepan.