Judul: Bukan Pasar Malam
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Jumlah Halaman:108
Kita sudah tidak asing lagi dengan penulis yang semasa hidupnya banyak dihabiskan dibalik sel tahanan. Namun semua itu tak menyurutkan keberaniannya, ia tetap menulis meski masih di balik jeruji. Pramoedya Ananta Toer, penulis dengan segudang prestasi di kanca internasional. Pram terkenal dengan kepenulisannya yang menerangkan kehidupan yang terjadi dalam sebuah kisah fiksi, dengan begitu pembaca yang lain generasi bisa memiliki penggambaran yang terjadi di masa hidupnya, tak sedikit pula karya-karya beliau dilarang untuk diedarkan di Indonesia, tetapi sangat dikagumi di luar negeri. Beberapa karyanya yang terangkum dalam tetralogi Pulau Buruh, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Salah satu karya lainnya adalah Bukan Pasar Malam.
Buku dengan sampul memperlihatkan seorang pria, di belakang nya ada seorang perempuan. Dua orang itu adalah tokoh utama dan sang istri. Kita bisa lihat di balik dua sosok terdapat gambar yang ramai akan orang seperti pasar malam. Kita tahu jika itu adalah pekan raya, sangat mudah ditebak karena terdapat komedi putar, dan banyak orang. Buku dengan halaman yang sedikit, tetapi yang terkandung di dalam buku ini mencakup beberapa aspek, yang hingga kini masih bisa kita lihat di kehidupan sehari-hari. Buku ini pun masih menggunakan ejaan lama. Hal itu membuat pembaca sulit, semisal kata melayang, dalam buku masih tertulis ejaan melajang, j dibaca y. Ini menyulitkan pembaca, dan membingungkan, terutama jika terdapat kata yang sama antara ejaan lama dan ejaan baru.
Bukan Pasar Malam, berkisah tentang seorang pria yang harus mencari hutangan untuk pulang kampung. Semua itu harus dilakukannya karena ayahnya yang sedang sakit keras. Ketika ia mencari hutangan, ia harus mencari teman yang mau untuk dihutangi. Sebenarnya dia tidak enak kepada ayahnya dan merasa bersalah telah mengirim balasan surat dengan kata yang kurang enak (jadi sebelumnya ia tidak tahu ayahnya sakit), setelah mendapat berita dari sang pamannya bahwa ia harus pulang kampung. Setelah mendapat hutangan ia pun memboyong istrinya untuk pulang kampung ke Blora. Di perjalanan banyak kenangan yang muncul dan saling mengingatkan, saling berhubungan dengan apa yang dipandangnya, pengorbanan sebelum kemerdekaan begitu besar, banyak cerita yang berkesan untuk diingat.
Sesampainya di rumah ia disambut oleh adik-adiknya yang harus mengurus ayah mereka yang sedang sakit parah. Di rumah sakit, ia melihat ayahnya yang dulu kekar kini di depan matanya ayahnya seperti orang yang tak pernah dikenalnya. Seorang pria dengan tubuh yang kurus kering. Seorang guru yang memperjuangkan pendidikan di bumi pertiwi, dengan segala upayanya. Ia rela mengobankan semuanya yang dimilikinya untuk kepentingan kemerdekaan, kini ayahnya itu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Sakit Tuberkulosis yang menggerogotinya membuatnya harus menahan diri untuk segala hal. Berbicara pun sudah sangat susah.
Suatu hari seseorang yang dikenalnya dulu, mengatakan padanya jika rumah yang dibangun ayahnya dua puluh lima tahun yang lalu kini sudah bobrok, dan sumur yang awalnya milik pribadi harus segera diperbaiki. Kini bertambah lagi masalah yang harus segera diperbaiki. Suatu hari ayahnya ingin pulang dari rumah sakit, dokter yang merawat dari rumah sakit sudah memperbolehkan ayahnya pulang, dan bisa dirawat di rumah. Namun kepulangannya tak berlangsung lama, ayahnya mengehmbuskan nafas terakhir nya di rumah, dengan keadaan sendiri tanpa siapa pun yang mendampingi.
Kepergian ayahnya yang merupakan seorang yang ternama.dan sangat berjasa begitu disayangkan oleh para temannya. Meskipun ia terkenal karena jasanya ia pun terkenal di dunia perjudian. Kesukaannya berjudi tidak membuatnya dianggap remeh, malah ia terkenal di kalangan lain.
Sebagai guru, ayah dari tokoh "aku" sangat dikagumi, semua perjuangan dan pengorbanan ia berikan hanya untuk kemerdekaan Indonesia, tapi ketika Indonesia telah mendapatkan kemerdekaan, rakyat Indonesia seakan lupa pada jasa guru. Guru memberi ruang bagi para murid untuk menjadi semua yang dicita-citakan, namun guru akan selalu jadi guru, dan akan terus seperti itu selama guru masih mengajar dan medidik anak ajarnya, anak yang akan meneruskan bangsa kita.
Namun, semua orang telah berlombah-lomba untuk bisa duduk di kursi, setidaknya kursi itu memiliki tempat yang tinggi. Perebutan kekuasaan ini didasari oleh keinginan untuk menguasai. Bukan itu kemerdekaan yang ingin dicapai, tetapi kemajuan budi luhur bangsa lah yang harusnya dijunjung tinggi, bukan menjunjung tinggi harga diri yang berujung pada perhitungan kekayaan, uang dan segala hal yang berhubungan dengan dunia. Dan pada akhirnya manusia berakhir pada kematian.
Ketika ada kelahiran, maka aka ada kematian, ya hanya itu kematian adalah tujuan manusia di dunia, tujuan manusia dilahirkan selain untuk menjaga dunia, menjadi pemimpin di dunia ini, tetapi kepemimpinan manusia hanyalah sesuatu yang tak berguna jika dihadapkan dengan kematian.
Buku yang sangat menyentuh, dan berisi banyak sekali pelajaran kehidupan ini teringkas dalam 108 halaman saja, jadi mudah dibawa kemana saja. Namun buku ini masih menggunakan ejaan lama, agak membingungkan jika bagi pembaca yang kurang teliti bisa saja salah memahami bacaan. Bukan Pasar Malam bisa dibaca oleh semua kalangan, meskipun buku ini menggunakan ejaan lama, tetapi isi dari buku ini cocok dibaca pula oleh pembaca yang mempunyai selera yang menye-menye, tentu pelajaran yang bisa diambil lebih banyak dari buku novel teenlite.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar