Minggu, 10 November 2019

Mencari Alasan bertemu Tuhan

Di sisi kanan malam, disisi kiri fajar, ia berdiri dengan kekosongan hati, menangis tanpa mengerti sebab, mengerti pada masalah rumit, ruwet, yang membingungkan. Berdiri pada beton tua, menghadap ke depan, dan tubuhnya pun terbang, hilang pada kegelapan malam. Seisi dunia ini tidak ada yang peduli dengan apa yang terjadi padanya. Setetes air mata jatuh mendahului dentuman di telinganya.

Mencoba mengingat kenangan indah masa lalu yang saat ini dia damba. Waktu takkan terulang hanya terulang jika kau mengingatnya. Senyuman manis terukir di bibirnya. Semoga ini jalanku ke surga. Pikirnya sebelum rencana itu di dapatnya.

Semua sama saja tiada yang istimewa. Mungkin hanya sulit di jelaskan, dia terluka pada hari itu, goresan luka terngiang, darah meluncur dari dahi ke sebelah alisnya. Berjalan tertatih menuju pondok kecil dan tertutup. Terus berjalan dengan kesendirian. Menangisi apa yang terjadi. Kerusuhan yang terjadi di daerah nya mengharuskan dia mencari tempat berlindung. Dia cerdik di segala bidang, _licik_ pada keserakahan.

Tertawa pada ketidakadilan, bahagia atas kesalahan. Meneriaki kesewenangannya. Tunduk pada kejahatan. Patuh pada kebajikan. Ia menatap dirinya di cermin. Haaa Tuhan tidak akan Sudi bertemu dengan ku. Seorang yang kejam.

Tertegun dirinya saat ia menyadari kekecewaan nya pada Tuhan. Bagaimana keinginannya bisa terkabul. Jika ingin hutang harus menemui si lintah darat. Maka jika harus meminta harus menemui Tuhan?

Tidak ada komentar:

Hukum kok dibeli?

 Opini Perlindungan pada korban itu penting.  Media sosial kerap kali dijadikan orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tidak kri...