Judul: Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka
Tahun Terbit: 2014, Jakarta.
ISBN: 978 602 03 0393 2
Eka Kurniawan lahir di Tasikmalaya, 1975. Ia menyelesaikan studi dari Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1999), dengan skripsi yang kemudian terbit menjadi buku berjudul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (1999). Ia menulis buku ini diperuntukan untuk sang istri , Ratih Kumala.
Pada bagian cover terlihat seekor burung yang tertidur begitu lelap. Di atas burung yang tertidur terdapat tulisan Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, dengan warna yang terbilang mencolok dan kontras satu sama lain. Pemilihan warna ini tentunya menarik pembaca buku untuk membaca bukunya. Sampul buku ini adalah gambaran salah satu bagian cerita di mana Mono Ompong sangat menyukai desain gambar pada truk yang dikendarainya, truk milik Ajo Kawir. Pada sampul belakang seperti kebanyakan buku, terdapat sepenggal cerita. Bukan saja mengisahkan secara singkat namun, daya tarik dari sinopsisnya adalah pemilihan katanya yang menggugah rasa penasaran pembaca.
Kisah berawal saat dua bocah usia awal belasan Ajo Kawir dan Si Tokek, di mana di usia ini anak-anak itu sudah menginjak masa remaja. Keduanya pada malam itu mengintip dua polisi yang sedang melakukan rudapaksa terhadap Rona Merah, seorang perempuan dengan gangguan jiwa saat setelah ia ditinggalkan oleh suaminya Agus Klobot, sahabat Iwan Angsa ayah dari Si Tokek. Sebuah hal yang tak pernah diduga oleh kedua bocah itu pun terjadi. Kemaluan Ajo Kawir tidak bisa berdiri. Tentu nya hal ini membuat Ajo Kawir sedih saat semua usahanya sia-sia. Beberapa usaha itu seperti ia mencoba mengoleskan cabai rawit pada kemaluannya, membiarkan kemaluannya disengat oleh lebah, bukannya bisa berdiri, tetapi ia hanya bisa berteriak karena tersiksa. Sebagai sahabat Si Tokek mencoba menghibur Ajo Kawir.
Rasa sakit itu bertambah kala ia bertemu dengan Iteung. Gadis yang melawannya saat ia ingin menghukum Pak Lebe, seorang juragan tambak. Pertemuan yang diawali dengan pertarungan keduanya membuat mereka semakin dekat satu sama lain. Saling mengirim lagu lewat radio, jalan-jalan. Ajo Kawir menyadari jika hubungan keduanya adalah kesalahan, Iteungnya akan terluka jika mengetahui bahwa dirinya tidak bisa ngaceng. Namanya cinta, Iteung siap menerima apapun kekurangan Ajo Kawir. Mereka pun memutuskan untuk menikah. Keduanya menikah melakukan hubungan dan Iteung memperoleh kepuasan hanya dengan jari-jari Ajo Kawir. Kesetiaan Iteung diuji, Iteung ingin lebih dari sekedar keahlian jari Ajo Kawir.
Satu hari Iteung pulang dari rumah sakit, ketika di depan pintu ia disambut oleh Ajo Kawir, dan mengatakan apa yang telah terjadi. Ia telah berkata jujur, bahwa ia hamil. Ajo Kawir terkejut mendengar pengakuan istrinya, ia pun memutuskan untuk pergi, dan mencari Si Macan, orang yang akan ia bunuh dengan bayaran tinggi. Setelah ia berhasil membunuh si macan ia harus mendekam di penjara, keluar dari penjara ia memutuskan untuk menjadi supir truk. Berprofesi sebagai supir truk Ajo kawir bertemu dengan mono Ompong, keneknya. Diam-diam Ajo Kawir sayang pada anak Iteung, tiap si tokek menemuinya setidaknya sahabatnya membawa foto anaknya, untuk dipajang si langit-langit truk. Ia akan memandangnya tiap sebelum tidur dan saat bangun. Belasan tahun di perantauan ia memutuskan untuk kembali saat Iteung telah dibebaskan dari penjara karena telah membunuh Budi Baik, dan setelah apa yang terjadi pada Mono Ompong seusai bertarung dengan Si Kumbang. Hari pembebasan Iteung tiba. Ia diberi tahu jika ia membunuh dua polisi yang membuat burung suaminya tidur panjang mungkin bisa membangunkannya. Di hari pembebasannya adalah hari pembalasan atas penderitaan yang ditanggungnya dan suaminya. Harusnya bertemu untuk melepas rindu, tapi tidak masalah jika pembalasan dendam bisa mewujudkan rindu yang lain.
Iteung, adalah perempuan yang pemberani, lebih dari kata pemberani. Sebab ia membalaskan dendam nya dari kesalahannya sendiri ia telah berkhianat, mungkin kebanyakan orang menganggap itu sebuah kesalahan, mungkin salah saat dia membunuh Budi Baik. Tapi untuk membunuh dua polisi yang menyebabkan itu semua, menurutku itu lebih baik, lagi pula siapa yang akan menghukum keduanya sedangkan Rona Merah sudah meninggal, dan Ajo Kawir sudah tobat. Si Tokek pun tidak mungkin berani, dan membuka masa kelamnya dan menuntut nya selalu merasa bersalah pada Ajo Kawir. Tidak ada yang bisa menghukum keduanya semua bukti sudah hilang.
Dalam buku ini banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran dalam hidup, bahkan burung yang tertidur pun bisa jadi pelajaran. Ketika masih bisa melakukan setidaknya ia tidak menggunakannya secara berlebihan, sekiranya tidak digunakan di waktu yang tidak tepat. Paling utama pentingnya sosialisasi tentang seksual itu penting. Sayang sekali pada dewasa ini orang tua masih menganggap hal itu adalah hal yang tabu. Bahkan lebih jauh lagi ada orang tua yang menganggap bahwa pendidikan seksual itu mengajari anak untuk berbuat zina.
Tidak hanya itu dalam buku ini terdapat beberapa tokoh yang memiliki kelainan seksual. Semisal Ajo Kawir, dalam buku ini Ajo Kawir mengalami gangguan seksual yaitu impoten, yang artinya ia tak bisa bergairah oleh gairah seks. Selanjutnya, Mono Ompong, ia mengalami gangguan seksual ejakulasi dini. Ada lagi satu, Si Kumbang supir truk ia begitu suka pada Mono Ompong, laki-laki suka dengan sesama jenis.
Terdapat beberapa bagian yang terbilang di luar nalar. Contohnya saat Ajo Kawir berbicara dengan kemaluannya. Cerita dari sudut pandang seekor cicak yang berada di sel, tentu hal ini tak mungkin terjadi tapi adanya cerita ini bisa membuat pembaca lebih santai saat membaca bab menegangkan pada buku. Di balik itu semua penulisan cerita yang loncat dari satu cerita ke cerita yang lain dan alur yang maju mundur mengharuskan pembaca untuk membaca berulang kali, untuk memahami kisah dari tokoh utama. Karena dalam sampul sudah terdapat kategori tulisan dewasa, maka buku ini tidak cocok untuk anak di bawa umur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar