Judul: Dari Ngalian ke Sendowo
Penulis: Nh. Dini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-602-03-1651-2
Nh. Dini yang bernama panjang Nurhayati Sri Hardini adalah penulis perempuan kenamaan Indonesia. Ia mulai menulis sejak tahun 1951, ketika masih duduk di bangku kelas II SMP. “Pendurhaka” adalah tulisannya yang pertama dimuat di majalah Kisah dan mendapat sorotan dari H.B.Jassin; sedangkan kumpulan cerita pendeknya, Dua Dunia, diterbitkan pada tahun 1956 ketika beliau masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Di usia remaja beliau bekerja sebagai pramugari di Garuda Indonesia Airways, lalu menikah dengan Yves Coffin, seorang diplomat Prancis, dan dikaruniai sepasang anak, Marie Claire Lintang dan Pierre Louis Padang. Beliau juga memiliki dan membangun sebuah pondok baca di Semarang.
Dari Ngalian ke Sendowo, buku ini berkisah tentang kehidupannya di Ngalian sebelum pindah hingga ia pindah ke Sendowo yang ditulis oleh nya bernuansa seperti catatan harian yang terkumpul lalu dimuat dalam sebuah buku dengan bahasa yang mudah dicernah, dan layak untuk dibaca oleh pembacanya. Meskipun tidak dalam tulisan nya tidak seutuhnya tertulis atau tertata secara runtut. Tapi cerita atau kisah yang dituturkannya dalam buku bisa dinikmati oleh pembaca. Dalam buku ini mengajarkan jika menulis buku harian itu dirasa perlu untuk mengetahui mengapa, kenapa ada masalah dan bagaimana cara untuk mengatasi semua masalah dikemudian hari, atau bahkan bisa mempengaruhi orang lain untuk mengikuti bagaimana ia harus mengatasi semua persoalan.
Buku ini diawali kisah di saat ia harus menjalankan operasi gigi yang diharuskan oleh dokter sebab dalam pertumbuhan gigi untuk orang pada umumnya gigi orang dewasa tumbuh sebanyak 32 buah, tapi untuk giginya sendiri hanya ada 27, sebab lima buah gigi gerahamnya tidak tumbuh secara normal, melainkan tumbuh di dalam gusinya, hal ini yang membuat rasa ngilu dalam gusinya, dan harus sesegera mungkin dicabut, dengan cara operasi pengangkatan gigi. Dalam beberapa hari saat ia dirawat di rumah sakit. Beliau memiliki kenalan, seorang pasien yang satu kamar dengan nya. Kebetulan pasien tersebut adalah pembaca setia buku tulisan nya. Saat operasi akan dijalankan ia memberi kan, lebih tepatnya menitipkan barang bawaan seperti perhiasannya. Beruntung ia menemukan orang baru yang dapat dipercaya. Dalam perawatan yang dijalaninya ia memiliki sanak saudara yang juga seorang dokter gigi dan yang mengoprasinya saat itu.
Ia sangat bersyukur bertemu dan berjumpa dengan orang yang baik dan peduli padanya. Ya banyak hal yang bisa disyukuri. Tak cuma itu, orang baik bisa ditemui dengan banyak nya relasi dan bagaimana cara kita menghadapi orang lain, maka begitulah orang lain akan menghadapi kita, bagaimana kita menghargai orang lain tentu kita akan dihargai. Tapi tidak menutup kemungkinan akan terjadi kebalikannya.
Seperti yang terjadi sudah-sudah, ia begitu mudah mendapat bantuan dari saudara-saudara nya, entah itu saudara kandung, saudara karena tali pernikahan atau saudara yang memang orang asing dan tidak memiliki ikatan apapun dengan nya. Ketika saat ia memiliki penyakit di mana terdapat batu di dalam empedu, ia pun harus melakukan operasi dan biaya yang harus dikeluarkan tidak lah sedikit. Maka iapun di beri bantuan oleh teman temannya.
Ia sangat prihatin pada sastra Indonesia yang tidak dihargai dengan pantas. Semua itu ia ketahui saat ia menjadi pembicara atau narasumber dalam sebuah seminar, ia tidak diajak untuk berfoto bahkan anak anak diharuskan untuk tidak mengganggunya, bahkan di kalangan guru gurupun banyak yang tidak peduli, dan kebanyakan orang menganggap bahwa seni dalam sastra hanyalah puisi yang lain tidak.
Kurangnya minat masyarakat Indonesia dengan kegiatan tulis menulis, sangat dipengaruhi oleh lingkungan, dari lingkungan keluarga hingga lingkungan tempat tinggal. Seperti yang ia utarakan dalam tulisan nya tentang hubungan nya dengan H.B. Jassin
"Budaya menulis surat tidak asing bagi kami sekeluarga. Ketika kami akan menjalani ulangan atau tes di sekolah, orangtua mengarahkan kami untuk meminta restu kepada Uwak atau Kakek maupun Paman dan Bibi. Hingga sekarang, saya masih hafal doa-doa untuk mengencerkan otak di saat belajar, diberikan oleh Pak Wo, kakak ibu kami." Dapat dilihat begitu penting nya keluarga dalam sebuah kegiatan. Ia mudah mengritik seseorang namun juga memikirkan mengapa orang harus melakukan hal demikian. Semisal saat ia terkena musibah ketika HP yang ia punya hilang saat seorang tukang pos datang, ia masih berpikir untuk tidak memberi tahu siapa pencurinya meskipun ia sudah tahu.
Buku dengan sampul bungah dan warna-warni dan tulisan dari satu kisah ke kisah yang lain. Ia bisa menempatkan penghubung dari kisah ke kisah yang lain dengan rapi, dan jika di lihat ada beberapa kisah yang mungkin sebelumnya sudah ada di buku atau cerpen yang sebelumnya. Saya menyimpulkan sedemikian rupa sebab di beberapa halaman buku terdapat penjelasan beberapa karyanya. Seperti ketika ia menjelaskan tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita nya. Seperti dalam peristiwa yang hampir sama dengan cerita atau buku yang lain.
Buku ini sangat cocok bagi orang yang gemar membaca. Mungkin buku ini sulit jika dibaca hanya separuh cerita. Itu dikarenakan banyak nya cerita yang berlanjut, dan habis lalu dilanjutkan ke cerita selanjutnya. Buku ini cocok untuk semua usia, dan menurutku buku ini lain dari pada buku yang pernah saya baca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar