Judul : Entrok
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka
Tahun terbit: 2010
ISBN: 978 - 979 - 22 - 5589 - 8
Entrok adalah karya pertama dari Okky Madasari, lahir di Magetan, Jawa Timur, pada 30 Oktober 1984. Ia mendapatkan gelar Sarjana Ilmu Politik dari Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada. Setamat kuliah ia memilih berkarier sebagai wartawan dan mendalami dunia penulisan.
Buku yang terbit pada 2010 ini merupakan buku yang unik, kita bisa tertarik hanya dengan melihat judulnya, dalam benak ketika saya baca judulnya apa itu "entrok"? Meskipun kata Entrok merupakan kata yang asing di gunakan di zaman sekarang ini, untuk saat ini istilah entrok merupakan istilah bra pada zaman pra orde baru. Meskipun begitu masih banyak hal yang disajikan oleh buku ini. Beberapa hal yang pernah dianggap tabu pada masa itu dan di masa sekarang ini adalah hal yang lumrah, begitupun sebaliknya. Pertama kita baca teruntuk siapa buku ini diperuntukkan maka akan kita temukan tulisan yang tertulis.
" Untuk mereka yang menyimpan Tuhan masing-masing dalam hatinya." Dari kalimat tersebut apa yang kita temukan pertama kali, dan apa yang kita tebak di awal sesaat hanya membaca judul dan gambar sampul adalah suatu hala yang ada di luar pemikiran kita. Saya pun tak menyangka apa hubungan di antara keduanya. Mungkin kata Entrok bisa membuat pembaca penasaran karena itu kata tersebut dipilih sebagai judul. Meskipun tidak terlalu banyak bab akan tetapi apa yang kita temukan di dalam nya begitu banyak, dan untuk saya sendiri ketika membaca tiap bab saya merasa kesal sendiri pada para tokoh, tapi di setiap tokoh ada banyak hal yang bisa dipelajari sebagai manusia kedepannya. Dan buku ini cenderung ringan untuk dibaca.
Buku dengan sudut pandang orang pertama dengan pergantian sudut pandang dari sisi Rahayu dan Marni, kita bisa lebih memasuki dan menyelam dalam pemikiran mereka. Jika saya sendiri ketika membaca jujur saya benci pada fakta yang ada pada buku. Bahkan saya sesekali mengumpat ketika menemukan tokoh yang membuat saya marah.
Awal cerita adalah masa di mana kita akan menemukan seorang yang saat itu sudah mendapat kebebasan dari sebuah cap, yang akan membuat orang malu dan tidak bisa mendapat pekerjaan bahkan hidup mereka sendiri. Ya, saat penghapusan masa Orba. Negara telah berubah, kebebasan telah berubah. Dilanjutkan dengan sudut pandang dari Marni, di bab kedua, seorang gadis yang baru menginjak usia remaja, yang saat itu sedang merasakan perbedaan pada dirinya, terutama pada buah dada nya, membuat nya termotivasi untuk sebuah entrok, hingga ia harus berusaha lebih keras lagi daripada ia menjadi pengupas singkong di pasar untuk dijadikan gaplek, yang akan jadi panganan pokok di setiap harinya. Hanya karena sebuah entrok yang pada masa itu ia harus bekerja lebih keras, yaitu sebagai kuli. Tidak seperti kuli laki laki yang membawa dagangan dari pedagang, ia hanya membantu membawa belanjaan, setidaknya baginya bisa menghasilkan uang. Tidak seperti kebanyakan orang perempuan yang bekerja di pasar yang selalu diupahi dengan bahan pokok untuk makan. Dengan tekatnya ia bisa mendapat apa yang ia inginkan hingga ia bisa merubah nasibnya.
Suatu hari ia pergi ke Pasar Gede, yang terletak di Madiun. Ia bertemu dengan Koh Cahya. Pedagang asal Tionghoa, yang juga terbatas dalam menyembah leluhur, pada saat itu tidak boleh untuk ke Klenteng. Mereka pun menjadi teman. Keduanya sama-sama memiliki keterbatasan dalam menyembah dan mempertahan kan pada keyakinan mereka. Namun Koh Cahya tidak semulus kehidupan Marni.
Rahayu, yang selalu berpandangan bahwa ibu nya adalah pendosa, dengan menyembah leluhur, berdoa di bawa pohon asem membuat tumpeng dan panggangan. Ia pun mendapat hujatan dari guru tetangga dan teman-temannya sebagai anak rentenir dan pendosa. Di rumah nya setiap berapa hari sekali akan datang para tentara yang mengambil jata keamanan. Meski begitu masih banyak orang yang menghina ibunya termasuk dirinya yang malu memiliki ibu yang masih menyembah leluhur. Hingga dalam rumah nya pun merasa tak ada gunanya rumah hanya untuk tempat tidur, dan mengurung diri sekaligus sebagai tempat penghinaannya pada ibunya.
Hingga saat ia menjadi mahasiswi di salah satu universitas di Jogja, ia bertemu dengan dosen bernama Amri yang akan menjadi suaminya. Meski pun Amri sudah punya istri dan anak tapi ia tak melupakan cinta nya. Mereka pun aktif dalam hal yang berbau agama dan keadilan. Hingga suatu hari yang akan menjadi awal semuanya, sebuah raga yang hidup tapi jiwa tidak.
Bagaimana orang bisa menyembah jika ia tak mengenal Tuhan. Begitulah pemikiran Marni saat ia dicap pendosa oleh anaknya yang berilmu. Ia sedikit pun tak menyesal jika ia bisa menyekolahkan anaknya, tapi yang membuat nya sendiri heran hingga ia bertemu dengan kebenaran. Anaknya sekolah tinggi tapi tak pernah memahami, memperkenalakannya, atau mencoba mengajari mana yang benar. Seperti apa agama yang benar bukan hanya menghina keyakinan.
Buku ini begitu banyak hal yang bisa di ambil, beberapa fakta yang memang benar, sejak kecil kita selalu disuguhi bahwa tentara itu baik padahal tidak semua, guru itu benar, apalagi guru agama, tentu saja tidak mereka juga bisa "nyalah" dan orang berpendidik itu harus seperti padi. Semakin berilmu semakin merunduk bukan saat ini bukan seperti itu. Orang berilmu lebih mudah menyalahkan, mengkafirkan. Meskipun begitu judul yang diambil tidak banyak dibahas dalam buku ini. Buku ini cocok untuk semua kalangan terutama bagi kita yang selalu berupaya membenarkan orang lain terlebih dahulu dari pada kita membenarkan diri kita terlebih dahulu, maksudnya kita melihat mencari apa yang kurang dalam diri kita. Perbaiki bukan melihat diri baik lalu menganggap orang lain buruk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar