Rabu, 13 Januari 2021

Hukum kok dibeli?

 Opini

Perlindungan pada korban itu penting. 

Media sosial kerap kali dijadikan orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tidak kriminal, seperti pembullyan, penyebaran hoax atau berita bohong dan kejahatan lainnya kini sedang marak terjadi. Terkadang dari internet sendiri banyak media yang kurang memperhatikan perlindungan terhadap korban. Kecenderungan ini marak terjadi di berbagai media, salah satunya media yang setara dengan surat kabar, yang biasanya menampilkan berita dan bisa mengakibatkan terganggunya proses penangkapan tersangka atau bahkan ancaman terhadap korban. Bagi pihak korban sendiri seharusnya diberlakukan perlindungan, perasaan aman dan tidak terintimidasi harus didapat oleh korban maupun keluarga korban. Pasalnya saat ini masih banyak media yang kurang memperdulikan hal itu. Bahkan berkembangnya kabar hoax atau berita bohong sering dijadikan sebagai topik utama, meskipun hal itu sebenarnya tidak terlalu penting.  Semisal berita viral, padahal terkadang yang viral itu sebuah hal yang tidak penting, seakan media hanya ingin mendapat penonton atau pembaca banyak. Seperti berita selebriti atau artis yang sebenarnya nya sudah ada sendiri wadah untuk meliput mereka.  

Intimidasi terhadap keluarga korban kerap terjadi, atau bahkan kenyamanan korban atau keluarga korban dalam sebuah perkara itu terganggu, bisa juga mengakibatkan peberhentian perkara, dan hal tersebut disebabkan oleh  ancaman terhadap korban maupun keluarga. Apalagi jika orang yang bersalah adalah orang yang berada, atau mampu untuk membukam dan menutup perkara dengan uang. Keadilan di Indonesia mudah dibeli, meskipun secara tertulis, banyak hukum yang ada, namun jika tidak tercium media, atau media sudah kongkalikong dengan tersangka  alangkah baiknya jika media turut andil dalam hal untuk melindungi korban atau keluarga, dengan tidak mempublikasikan data pribadi korban atau keluarga, setidaknya bisa melindungi korban dalam hal ini. 

Perlindungan terhadap korban, tidak perlu muluk-muluk meskipun hal ini juga penting, tetapi setidaknya rasa terlindungi dari ancaman adalah hal utama. Semisal identitas korban seperti alamat, bisa saja orang melaporkan kebohongan atau banyak orang yang melapor atau mendatangi kediaman korban, entah itu hanya melihat atau hal sebagainya. Pendampingan hukum untuk masyarakat  juga perlu termasuk terdakwa.Indonesia memang negara hukum namun masih banyak oknum yang tidak menaati hal tersebut termasuk para orang pengadilan, orang yang betpendidikan tinggi, namun sama sekali tidak mencerminkan hal tersebut. 

Selasa, 05 Januari 2021

Hidup Kita Hanya Untuk Pulang ke Rumah Masing-masing

 

Judul:  Bukan Pasar Malam

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit : Lentera Dipantara

Jumlah Halaman:108



Kita sudah tidak asing lagi dengan penulis yang semasa hidupnya banyak dihabiskan dibalik sel tahanan. Namun semua itu tak menyurutkan keberaniannya, ia tetap menulis meski masih di balik jeruji. Pramoedya Ananta Toer, penulis dengan segudang prestasi di kanca internasional.  Pram terkenal dengan kepenulisannya yang menerangkan kehidupan yang terjadi dalam sebuah kisah fiksi, dengan begitu pembaca yang lain generasi bisa memiliki penggambaran yang terjadi di masa hidupnya, tak sedikit pula karya-karya beliau dilarang untuk diedarkan di Indonesia, tetapi sangat dikagumi di luar negeri. Beberapa karyanya yang terangkum dalam tetralogi Pulau Buruh, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Salah satu karya lainnya adalah Bukan Pasar Malam.

Buku dengan sampul memperlihatkan seorang pria, di belakang nya ada seorang perempuan. Dua orang itu adalah tokoh utama dan sang istri. Kita bisa lihat di balik dua sosok terdapat gambar yang ramai akan orang seperti pasar malam. Kita tahu jika itu adalah pekan raya, sangat mudah ditebak karena terdapat komedi putar, dan banyak orang.  Buku dengan halaman yang sedikit, tetapi yang terkandung di dalam buku ini mencakup  beberapa aspek, yang hingga kini masih bisa kita lihat di kehidupan sehari-hari.  Buku ini pun masih menggunakan ejaan lama. Hal itu membuat pembaca sulit, semisal kata melayang, dalam buku masih tertulis ejaan melajang, j dibaca y.  Ini menyulitkan pembaca, dan membingungkan, terutama jika terdapat kata yang sama antara ejaan lama dan ejaan baru. 

Bukan Pasar Malam, berkisah tentang seorang pria yang harus mencari hutangan untuk pulang kampung. Semua itu harus dilakukannya karena ayahnya yang sedang sakit keras. Ketika ia mencari hutangan, ia harus mencari teman yang mau untuk dihutangi. Sebenarnya dia  tidak enak kepada ayahnya dan merasa bersalah telah mengirim balasan surat dengan kata yang kurang enak (jadi sebelumnya ia tidak tahu ayahnya sakit), setelah mendapat berita dari sang pamannya bahwa ia harus pulang kampung.  Setelah mendapat hutangan ia pun memboyong istrinya untuk pulang kampung ke Blora. Di perjalanan banyak kenangan yang muncul dan saling mengingatkan, saling berhubungan dengan apa yang dipandangnya, pengorbanan sebelum kemerdekaan begitu besar, banyak cerita yang berkesan untuk diingat. 

Sesampainya di rumah ia disambut oleh adik-adiknya yang harus mengurus ayah mereka yang sedang sakit parah. Di rumah sakit, ia melihat ayahnya yang dulu kekar kini di depan matanya ayahnya seperti orang yang tak pernah dikenalnya. Seorang pria dengan tubuh yang kurus kering. Seorang guru yang memperjuangkan pendidikan di bumi pertiwi, dengan segala upayanya. Ia rela mengobankan semuanya yang dimilikinya untuk kepentingan kemerdekaan, kini ayahnya itu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Sakit Tuberkulosis yang menggerogotinya membuatnya harus menahan diri untuk segala hal. Berbicara pun sudah sangat susah. 

Suatu hari seseorang yang dikenalnya dulu, mengatakan padanya jika rumah yang dibangun ayahnya dua puluh lima tahun yang lalu kini sudah bobrok, dan sumur yang awalnya milik pribadi harus segera diperbaiki. Kini bertambah lagi masalah yang harus segera diperbaiki. Suatu hari ayahnya ingin pulang dari rumah sakit, dokter yang merawat dari rumah sakit sudah memperbolehkan ayahnya pulang, dan bisa dirawat di rumah. Namun kepulangannya tak berlangsung lama, ayahnya mengehmbuskan nafas terakhir nya di rumah, dengan keadaan sendiri tanpa siapa pun yang mendampingi. 

Kepergian ayahnya yang merupakan seorang yang ternama.dan sangat berjasa begitu disayangkan oleh para temannya. Meskipun ia terkenal karena jasanya ia pun terkenal di dunia perjudian. Kesukaannya berjudi tidak membuatnya dianggap remeh, malah ia terkenal di kalangan lain. 

Sebagai guru, ayah dari tokoh "aku" sangat dikagumi, semua perjuangan dan pengorbanan ia berikan hanya untuk kemerdekaan Indonesia, tapi ketika Indonesia telah mendapatkan kemerdekaan, rakyat Indonesia seakan lupa pada jasa guru. Guru memberi ruang bagi para murid untuk menjadi semua yang dicita-citakan, namun guru akan selalu jadi guru, dan akan terus seperti itu selama guru masih mengajar dan medidik anak ajarnya, anak yang akan meneruskan bangsa kita. 

Namun, semua orang telah berlombah-lomba untuk bisa duduk di kursi, setidaknya kursi itu memiliki tempat yang tinggi. Perebutan kekuasaan ini didasari oleh keinginan untuk menguasai. Bukan itu kemerdekaan yang ingin dicapai, tetapi kemajuan budi luhur bangsa lah yang harusnya dijunjung tinggi, bukan menjunjung tinggi harga diri yang berujung pada perhitungan kekayaan, uang dan segala hal yang berhubungan dengan dunia. Dan pada akhirnya manusia berakhir pada kematian. 

Ketika ada kelahiran, maka aka ada kematian, ya hanya itu kematian adalah tujuan manusia di dunia, tujuan manusia dilahirkan selain untuk menjaga dunia, menjadi pemimpin di dunia ini, tetapi kepemimpinan manusia hanyalah sesuatu yang tak berguna jika dihadapkan dengan kematian. 

Buku yang sangat menyentuh, dan berisi banyak sekali pelajaran kehidupan ini teringkas dalam 108 halaman saja, jadi mudah dibawa kemana saja. Namun buku ini masih menggunakan ejaan lama, agak membingungkan jika bagi pembaca yang kurang teliti bisa saja salah memahami bacaan.  Bukan Pasar Malam bisa dibaca oleh semua kalangan, meskipun buku ini menggunakan ejaan lama, tetapi isi dari buku ini cocok dibaca pula oleh pembaca yang mempunyai selera yang menye-menye, tentu pelajaran yang bisa diambil lebih banyak dari buku novel teenlite. 

Rabu, 23 Desember 2020

Bagaimana jika kusebut kita G-perusak?

 Tuntutan apa yang akan kita dapat dari anak cucu kita? 

Mungkin, akan ada banyak hal yang mereka tuntut dari kita. Saat pelajaran ilmu pengetahuan alam kita selalu diajarkan ada banyak macam jenis flora fauna. Jenis-jenis hutan, banyak nya lembah, habitat asli hewan, dan mungkin masih banyak lagi. Misal di Indonesia sendiri ada banyak hewan yang hampir punah bahkan sudah sangat sulit ditemukan. Semua itu karena kita, kita generasi tahun 2000an, kenapa kita? Karena kita terlalu dilena kan oleh teknologi, generasi cucu kita pasti punya teknologi yang lebih luar biasa bukan? 

Namun, selama masih ada kesempatan kenapa tidak untuk berubah. Tidaklah terlambat bagi kita untuk menyadari semua itu, kita sudah tahu banyak kerusakkan yang telah terjadi dan semua itu kita terlibat.  Perubahan iklim yang terjadi saat adalah buktinya. Penebangan pohon untuk pembukaan lahan bebas, tanpa adanya reboisasi, atau paling tidak kita menanam pohon. Palin ringan lagi ya buang sampah pada tempatnya. 

Jika di sekitar rumah bahkan di jalanan tempatku dulu di bulan Desember, pasti ada bungah Desember, dan pasti tumbuh di bulan ini. Tapi tidak saat ini sudah tidak ada yang tumbuh entah karena apa itu.  Saat ini banyak pohon yang ditebang untuk  manusia yang serakah. Banyaknya pembangunan, pembukaan lahan secara liar. Penggundulan hutan, penjualan kayu secara ilegal.  Hutan pun kini banyak terbakar (dibakar atau terbakar). Apalagi hutan yang ada di Indonesia merupakan paru-paru dunia. 

Dari buku Dunia Anna, kita diajak untuk peduli pada lingkungan, untuk lebih paham pada alam. Alam adalah penguasa dunia. Alam itu ibu kita melindungi kita, menjaga kesetaraaan kita menjaga kita, memberikan apa yang kita butuhkan untuk hidup. Tapi apa yang kita perbuat? Kita merusak apa yang ada. Kita tak menjaganya, kita malahan merusaknya. Kita begitu durhaka pada alam ini. Saat ini bukanlah saatnya kita merasa terlambat tapi kita harus peduli. 

Sudah berapa banyak di zaman ini tumbuhan atau hewan berada dalam daftar kepunahan.  Harimau Sumatra misalnya, harimau sumatra sebelum kemedekaan pun sudah termasuk hewan punah. 

Terbayang jika suatu hari nanti anak cucu kita menagih segala hal yang pernah ada pada diri kita. Mereka menagih, adakah salju abadi di Indonesia?  Bagaimana jika mereka bertanya, jika dulu katanya ada sabana di Indonesia, di mana? Mungkin kita akan temui sabana yang berbeda, seperti yang ada di internet. Semua keindahan yang ada saat ini kita rasakan akan punah dimasa anak cucu kita nanti. 

Selasa, 22 Desember 2020

Resensi A Man Called Ove

 
Judul :  A Man Called Ove 
Penulis: Fredrik Backman
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Penerbit: Noura Books
Tahun terbit: 2014
ISBN: 978-602-385-023-5
 
Fedrik Backman, seorang blogger dan kolomnis.  A Man Called Ove  adalah buku pertamanya. Kisah pak tua Ove, awalnya dikisahkan dalam cerita di akun blog nya. Namun karena saat menulis kisah Ove banyak permintaan dari pembaca blognya untuk melanjutkan kisah dari Ove. Maka ia pun melanjutkannya hingga kini bisa terbit sebagai sebuah buku. Maka buku ini menjadi buku yang sangat laris di Swedia. 
Buku yang bersampul warna biru sedikit abu-abu, dengan gambar orang tua dan mobil (mungkin itu yang disebut mobil saab) simpel tapi cukup membuat penasaran. Mungkin pertama kali kita akan melihat gambar orang tua, orang tua yang kesepian, dan benar Ove memang kesepian. 

Dalam buku kita akan menjumpai ada banyak hal yang kita temukan. Tentunya kita akan menemukan hal yang istimewa dari buku ini. Biarpun buku ini agak susah ditebak alurnya tapi kita akan selalu larut ketika menbaca nya. Meskipun kadang ada hal yang membosankan. Tapi akan seru jika diterus dibaca. 

Kisah berawal saat Ove berada di toko elektronik, dia ingin membeli komputer dengan mesit ketik yang terpisah dari monitornya. Hanya saja saat itu komputer kebanyakan yang dijual di tokoh elektronik tersebut tidak lah seperti pengharapan bapak tua yang dipanggil Ove, tersebut. Hanya ada komputer masa kini. Satu lagi penyebutan Opad pada I pad adalah hal lucu yang bisa dirasakan saat kita bertemu dengan bab pertama. Ditambah lagi bayangan lucu penjaga tokoh yang kesal dengan sikap Ove. 

Pertemuan luar biasa antara Ove dengan istrinya adalah suatu hal berikutnya yang bisa kita ambil. Kesempurnaan akan lengkap jika ketidaksempurnaan saling melengkapi. Pertemuan mereka diawali saat berada di peron. Hari itu mungkin hari yang istimewa Ove, saat ia bertemu dengan Sonja istri sekaligus pembawa kebahagiaan baru bagi Ove. Warna mereka sangat bertolak belakang, jika Ove hitam putih, maka Sonja adalah pewarna yang akan mewarnai hidup Ove.  Hidup keduanya seakan buku gambar, yang butuh ketiga hal tersebut. 
Kehidupan bertetangga Ove dengan tetangga muda disekitar rumahnya akan kita temukan begitu kontras dengan sikap Ove yang bisa disebut anti sosial. Maka di akhir kisah ia digambarkan jika ia adalah tetangga yang baik, ya pasti akan sangat menjengkelkan jika punya tetangga seperti Ove yang taat peraturan sebagaimana polisi taat pada aturan yang ditetapkan, atau bahkan Ove lebih taat.  Ove bisa dibilang memiliki keseharian yang sangat rutin, kerutinan dan keteraturan itu napas Ove, saat ia harus menjalani hidup sendiri. Mungkin kita akan benci pada orang yang seperti Ove, tapi apa boleh buat jika dunia butuh orang seperti itu, paling tidak sepuluh persen dari populasi manusia di dunia. 
Buku yang memiliki alur maju mundur terkadang membingungkan bagi pembaca, namun dengan gaya kepenulisan yang unik, penulis bisa menghadirkan suasana baru dalam membaca sebuah buku. Latar cerita yang dijelaskan hingga hal absurd dan pengandaian yang diluar nalar manusia bisa didapat dari buku ini. 
Satu hal yang menarik pada buku ini, mungkin sudah sedikit saya jelaskan di awal, jika cinta antara Ove dan Sonja, bagiku cinta yang luar biasa. Untuk pertama kalinya seorang Ove bertemu dengan seorang perempuan yang sekolah untuk menjadi guru di peron saat ia harus bekerja.  Hingga pertemuan mereka semakin hari semakin dekat, makan malam bersama,  sikap pengertian Sonja pada Ove saat pertama kali Ove mengatakan hal yang jujur. Jika bukan Sonja atau orang lain seperti itu, ketika kita mengatakan kejujuran mungkin ada rasa tak percaya di kemudian hari.  Ove, adalah hitam putih maka Sonja adalah warna yang melengkapi. Hidup monokrom akan lengkap jika diberi pewarna akan jauh lebih indah. 
Tetangga adalah keluarga terdekat yang akan peduli pada kita. Hal ini saya temukan pada pertemuan Ove dengan kucing yang tertumpuk salju. Tetangga yang paling mencolok dalam kisah ini adalah Parvaneh, seorang ibu mudah yang tengah hamil tua, begitu mudah nya berbicara akrab (ya tidak terlalu akrab, tapi perdebatan yang membuat mereka seperti keluarga). Ketika saat Parvaneh akan belajar  menyetir, dan yang mengajari adalah Ove. Dengan kesabaran yang sudah ditekan maksimal bagi seorang tempramen adalah bukti kepedulian dari Ove. Sebenarnya ia peduli hanya saja  harus tersembunyi dibalik wajah garang, dan judes yang selalu ditampilkan. Bahkan dalam akhir dari hidupnya, siapa lagi kalau bukan tetangga yang akan melakukan segalanya, meskipun prinsip sederhana dalam kematian yang ia inginkan, tapi apakah orang bisa menentukan jalannya sendiri ketika ia telah mati? 
Biarpun begitu, buku dengan penggambaran yang bisa dibayangkan terkadang membosankan, apalagi jika banyak hal yang, mungkin tidak terlalu penting. Namun karena bahasa yang digunakan menggugah rasa penasaran pembaca di setiap babnya lah yang menarik.  Bahkan ada hal aneh yang tercantum dalam tulisan ini, misal pengandaian bagaimana saat Ove marah. 
Buku ini cocok dibaca untuk semua kalangan mungkin dari anak usia Smp, sudah bisa menikmati buku ini, karena tidak ada hal yang beretentangan, kecuali dengan hukum jalanan di Indonesia, sulit kita temui orang seteratur itu.

Rabu, 16 Desember 2020

Tentang sebuah permainan .

 

Anak- anak adalah generasi penerus bangsa. Mereka memiliki daya kreativitas tersendiri. Imajinasi mereka begitu tinggi sehingga perlu perdampingan oleh orang tua. Namun ada baiknya kita kembangkan kecerdasan anak dengan cara lain, dengan cara bermain. Tentunya bukan kita yang akan dibuat bahagia tapi mereka pasti sangat suka. Ber main juga bisa membuat dan merekat kan hubungan kekeluargaan. Coba ajak mereka bermain bersama. Namun untuk saat ini, di saat pandemi ini kita harus tetap berada di rumah. Jadi mungkin kita akan kecil saat bermain bersama di luar rumah

 Tentu nya hal itu membuat kita sulit untuk beradaptasi, namun, sebelum hal ini pun sudah banyak anak yan melupakan, dan banyak yang tidak tahu. Pada dasar permainan jaman dulu yang lebih menyenangkan kini terkikis oleh jaman. Anak anak lebih suka bermain dengan gadget mereka. 

Beberapa contoh permainan jaman dulu yang membuat kita bisa melatih kecerdasan anak anak dengan beberapa cara bermain. 

1. Lompat Tali. 

Anak jaman 1990 an pasti tahu apa itu lompat tali. Lompat tali biasa digunakan untuk uji ketangkasan, kecepatan.  Permainan ini bisa dibilang olah raga. Karena bisa meningkatkan kekuatan kaki. Itu jika dimainkan sendiri, sendiri akan tetapi  jika dimainkan bersama teman biasanya dua orang berdiri, duduk ( jika masih di fase pertama) dan akan terus sesuai dengan level yang ditentukan oleh pemain. 

2. Engklean, atau kotak sembilan. 

Sama hal nya dengan lompat tali, engklean juga bisa melatih ketangkasan kaki, keseimbangan, kecepatan dan strategi. Ketangkasan kaki dilatih ketika kaki kita harus melompat dengan satu kaki. Keseimbangan, terlatih ketika kita menyeimbangkan tubuh kita yang bertumpuh pada satu kaki. Kecepatan, tentunya bagaimana kaki kita bisa mencapai tempat yang tertinggi. Strategi, belajar strategi bisa didapat dari permainan ini ketika kita harus melempar kreweng (patahan genting) atau patahan keramik ke tempat level yang harus dimulai. Jika gagal maka akan kembali lagi, namun jika sudah menyelesaikan semua maka, pemenang harus melakukan dorong kreweng dari awal. 

3. Bola bekel. 

Bola bekel cenderung disukai oleh anak anak perempuan. Biasanya dengan beberapa bekel, dan satu bola kecil bukan bola sebesar bola sepak, atau bola basket. Ketika melempar bola kita harus bisa mengambil bekel dan bola tidak boleh jatuh. Jika jatuh sudah kita tidak bisa bermain lagi. Permainan ini pun memiliki level level, dilakukan hingga pemain gagal ganti lainnya. Di sini pun dibutuhkan strategi ketika bagaimana cara kita mengambil bekel yang berjarak berjauhan, asal bola dan bekel tidak jatuh. Ataua menggelinding. Permainan ini juga bisa dimainkan secara berkelompok. 

4. Petak umpet. 

Nah mungkin yang satu ini bisa dilakukan oleh banyak anak. Kita bisa bergantian menjadi pencari dan mencari mereka yang sembunyi, permainan ini mungkin hingga sekarang masih ada. Berhitung  dari satu hingga sepuluh sedang yang sembunyi mencari tempat persembunyian yang ter baik saat penjaga tidak ada maka bisa menepeuk tempat dan menjadi pemenang. 

Mungkin saat ini tidak ada lagi permainan itu dikala paandemi covid 19 ini, tapi bisa juga digunakan saat mengisi waktu luang nanti ketika semua sudah normal, bukan lagi new normal. Pada dasarnya permainnan diciptakan secara otomatis dari keinginan pemain akan tetapi permainan permainan ini terkikis oleh banyaknya game on line. 

Selasa, 15 Desember 2020

Resensi Entrok karya Okky Madasari

 Judul :  Entrok 

Penulis: Okky Madasari

Penerbit: Gramedia Pustaka

Tahun terbit: 2010

ISBN: 978 - 979 - 22 - 5589 - 8

Entrok adalah karya pertama dari Okky Madasari, lahir di Magetan, Jawa Timur, pada 30 Oktober 1984. Ia mendapatkan gelar Sarjana Ilmu Politik dari Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada. Setamat kuliah ia memilih berkarier sebagai wartawan dan mendalami dunia penulisan. 

Buku yang terbit pada 2010 ini merupakan buku yang unik, kita bisa tertarik hanya dengan melihat judulnya, dalam benak ketika saya baca judulnya apa itu "entrok"? Meskipun kata Entrok merupakan kata yang asing di gunakan di zaman sekarang ini, untuk saat ini istilah entrok merupakan istilah bra pada zaman pra orde baru. Meskipun begitu masih banyak hal yang disajikan oleh buku ini.  Beberapa hal yang pernah dianggap tabu pada masa itu dan di masa sekarang ini adalah hal yang lumrah, begitupun sebaliknya.  Pertama kita baca teruntuk siapa buku ini diperuntukkan maka akan kita temukan tulisan yang tertulis. 

" Untuk mereka yang menyimpan Tuhan masing-masing dalam hatinya."  Dari kalimat tersebut  apa yang kita temukan pertama kali, dan apa yang kita tebak di awal sesaat hanya membaca judul dan gambar sampul adalah suatu hala yang ada di luar pemikiran kita. Saya pun tak menyangka apa hubungan di antara keduanya. Mungkin kata Entrok bisa membuat pembaca penasaran karena itu kata tersebut dipilih sebagai  judul. Meskipun tidak terlalu banyak bab akan tetapi apa yang kita temukan di dalam nya begitu banyak, dan untuk saya sendiri ketika membaca tiap bab saya merasa kesal sendiri pada para tokoh, tapi di setiap tokoh ada banyak hal yang bisa dipelajari sebagai manusia kedepannya. Dan buku ini cenderung ringan untuk dibaca. 

Buku dengan sudut pandang  orang pertama dengan pergantian sudut pandang dari sisi Rahayu dan Marni, kita bisa lebih memasuki dan menyelam dalam pemikiran mereka. Jika saya sendiri ketika membaca jujur saya benci pada fakta yang ada pada buku. Bahkan saya sesekali mengumpat ketika menemukan tokoh yang membuat saya marah. 

Awal cerita  adalah masa di mana kita akan menemukan seorang yang saat itu sudah mendapat kebebasan dari sebuah cap, yang akan membuat orang malu dan tidak bisa mendapat pekerjaan bahkan hidup mereka sendiri. Ya, saat penghapusan masa Orba.  Negara telah berubah,  kebebasan telah berubah. Dilanjutkan dengan sudut pandang dari Marni, di bab kedua, seorang gadis yang baru menginjak usia remaja, yang saat itu sedang merasakan perbedaan pada dirinya, terutama pada buah dada nya, membuat nya termotivasi untuk sebuah entrok, hingga ia harus berusaha lebih keras lagi daripada ia menjadi pengupas singkong di pasar untuk dijadikan gaplek, yang akan jadi panganan pokok di setiap harinya. Hanya karena sebuah entrok yang pada masa itu ia  harus bekerja lebih keras, yaitu sebagai kuli. Tidak seperti kuli laki laki yang membawa dagangan dari pedagang, ia hanya membantu membawa belanjaan, setidaknya baginya bisa menghasilkan uang. Tidak seperti kebanyakan orang perempuan yang bekerja di pasar yang selalu diupahi dengan bahan pokok untuk makan.  Dengan tekatnya ia bisa mendapat apa yang ia inginkan hingga ia bisa merubah nasibnya.  

Suatu hari ia pergi ke Pasar Gede, yang terletak di Madiun. Ia bertemu dengan Koh Cahya. Pedagang asal Tionghoa, yang juga terbatas dalam menyembah leluhur, pada saat itu tidak boleh untuk ke Klenteng. Mereka pun menjadi teman. Keduanya sama-sama memiliki keterbatasan dalam menyembah dan mempertahan kan pada keyakinan mereka.  Namun Koh Cahya tidak semulus kehidupan Marni. 

Rahayu, yang selalu berpandangan bahwa ibu nya adalah pendosa, dengan menyembah leluhur,  berdoa di bawa pohon asem membuat tumpeng dan panggangan. Ia pun mendapat hujatan dari guru tetangga dan teman-temannya sebagai anak rentenir dan pendosa.  Di rumah nya setiap berapa hari sekali akan datang para tentara yang mengambil jata keamanan. Meski begitu masih banyak orang yang menghina ibunya termasuk dirinya yang malu memiliki ibu yang masih menyembah leluhur.  Hingga dalam rumah nya pun merasa tak ada gunanya rumah hanya untuk tempat tidur, dan mengurung diri sekaligus sebagai tempat penghinaannya pada ibunya. 

Hingga saat ia menjadi mahasiswi di salah satu universitas di Jogja, ia bertemu dengan dosen bernama Amri yang akan menjadi suaminya. Meski pun Amri sudah punya istri dan anak tapi ia tak melupakan cinta nya. Mereka pun aktif dalam hal yang berbau agama dan keadilan. Hingga suatu hari yang akan menjadi awal semuanya, sebuah raga yang hidup tapi jiwa tidak.  

Bagaimana orang bisa menyembah jika ia tak  mengenal Tuhan. Begitulah pemikiran Marni saat ia dicap pendosa oleh anaknya yang berilmu.  Ia sedikit pun tak menyesal jika ia bisa menyekolahkan anaknya, tapi yang membuat nya sendiri heran hingga ia bertemu dengan kebenaran. Anaknya sekolah tinggi tapi tak pernah memahami, memperkenalakannya, atau mencoba mengajari mana yang benar. Seperti apa agama yang benar bukan hanya menghina keyakinan. 

Buku ini begitu banyak hal yang bisa di ambil, beberapa fakta yang memang benar, sejak kecil kita selalu disuguhi bahwa tentara itu baik padahal tidak semua, guru itu benar, apalagi guru agama, tentu saja tidak mereka juga bisa "nyalah"  dan orang berpendidik itu harus seperti padi. Semakin berilmu semakin merunduk bukan saat ini bukan seperti itu. Orang berilmu lebih mudah menyalahkan, mengkafirkan.  Meskipun begitu judul yang diambil tidak banyak dibahas dalam buku ini. Buku ini cocok untuk semua kalangan terutama bagi kita yang selalu berupaya membenarkan orang lain terlebih dahulu dari pada kita membenarkan diri kita terlebih dahulu, maksudnya kita melihat mencari apa yang kurang dalam diri kita. Perbaiki bukan melihat diri baik lalu menganggap orang lain buruk. 

Rabu, 25 November 2020

Wujudkan Jati Diri Indonesia


Banyaknya masalah yang terjadi di tanah air kita ini, tidak luput dari bagaimana sikap warga negara nya. Namanya juga warga negara sudah dapat dipastikan jika, semua  warga negara wajib untuk menjaga kelangsungan kita dalam bernegara dan hidup berbangsa. Kita Indonesia dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, tentunya toleransi, kerja sama, gotong royong atau apapun itu sudah menjadi kewajiban kita bersama, bagaimana jati diri Indonesia yang sudah terjadi sejak nenek moyang kita bisa hilang ketika negara kita dipegang oleh para pemimpin yang telah terpilih. Indonesia adalah negara berbangsa, banyak sekali perbedaan yang kita temui sehari-hari dari siaran gosip yang terlalu sepele dari kalangan selebritis hingga para pesohor yang memiliki kedudukan tinggi seperti presiden dan jajarannya. 

Menurut ketua umum pimpinan pusat Muhammadyah, Haedar Nashir jika perlu adanya komitmen  bersama dalam bernegara. " harus ada komitmen bersama dalam selesai kan  tiap masalah bangsa dengan jiwa kewarga negaraan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara." ujarnya. Betul jika kita sebagai sebuah bangsa kita tidak bisa merasa paling penting terutama untuk mereka yang memang bisa dibilang penting pun, tidak bisa suatu negara dibangun tanpa adanya komitmen. Semu linik masyarakat harus menjadi warga negara yang memang memiliki kewajiban untuk saling membantu tanpa harus memperdulikan status. 

Terutama dimasa pandemi saat ini kita sangat sangat dibutuhkan untuk selalu bekerja sama, tanpa harus menganggap itu adalah tanggung jawab si A atau si B, kita semua punya tanggung jawab itu. Kita semua berhak mengemban tanggung jawab itu. Bagi para kaum elite mungkin bisa dikurang kurangin untuk selalu bisa merasa lebih. Semua wajib menuruti lebih tepatnya mentaati kewajiban kita untuk selalu melakukan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Semua sama tidak boleh melanggar, mereka para pelanggar harusnya dihukum secara merata, tidak peduli tinggi tidak nya jabatan mereka. Apapun. Jenis mya dari pejabat hingga yang terendah. 

Sebagai agama mayoritas, yaitu Islam dan sebagai aliran Islam terbanyak kedua di Indonesia, muhamaddiyah pentik sebagai pengawas bukan hanya untuk orang Islam Indonesia saja tetapi juga bisa meliputi agama agama lain yang ada di negeri kita ini. Coba saja kita bisa menjalin hubungan yang dimaksud. Saling memahami satu sama lain dan tidak memperkeruh keadaan yang bisa membuat kita makin runyam. Pastinya kita perlu solusi, bukan masalah. Apalagi jika itu masalah tentang keadilan kecil. 

Menurut Haedar jika kelompok elit merasa semaunya sendiri, Indonesia akan tambah tidak berkesudahan masalah nya. Apalagi jika mereka merasa bebas, dan merasa tidak harus peduli pada protokol kesehatan dan merasa jika mereka tak masalah jika harus melanggar, mereka punya jabatan tak orang takut padanya. Bagaimana dengan orang tak mampu, atau yang sebenarnya tidak mengerti mengenai aturan-aturan baru.  Ditambah lagi, masalah yang sudah dan belum usai hingga kini. 

Gotong royong sebagai ciri khas turun menurun masyarakat Indonesia. 

Kita mungkin tidak asing dengan kata gotong royong, bahu membahu saling membantu. Semua itu kini sudah hilang, apa tidak bisa kita saling mengalah berbondong-bondong demi kemaslahatan umum?  Mungkin tidak hilang hanya saja sangat jarang muncul dipermukaan, lebih pastinya tidak semua orang akan melakukan gotong royong. Saya tahu jika kita m saat ini kita semua mendapat musibah, saya juga, kamu dan juga mereka. 

Untuk saat ini bersikap adil pada masyarakat sangat di perlukan supaya tidak terjadi ke iri dan dengki di hati mereka. Jika saya seorang pejalan kaki dalam perjalanan bepergian, pastinya harus ditegur jika kita melanggar berulang kali kita harus didenda atau apapun itu, setidaknya membuat kita jera, dan tidak mengulangi kesalahan yang sudah kita perbuat. 

Paling tidak bagi mereka yang mampu bisa membantu secara finansial bagi orang yang lebih membutuhkan. Dan untuk pengemis pemulung apa tidak sebaiknya disediakan oleh mereka yang kebutuhan sehari-hari nya tercukupi.  Tentunya hal ini  akan sangat membantu kita mengatasi masalah, atau mungkin dengan menciptakan lapangan kerja baru bagi mereka yang berusaha. Atau mencoba berwira usaha. 

Kita harus peduli dan tidak merasa bodo amat oleh lingkungan sekitar, jika memang terdapat pelanggar an kita bisa menegur tanpa perlu pihak lain yang lebih tinggi, tapi jika memang mereka bebal mungkin melaporkannya adalah hal yang harus di beritahukan kepada orang yang lebih memiliki wewenang, karena pada dasarnya rakyat Indonesia sering bebal. 

"Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut ssrta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. " Undang undang dasar 1945, pasal 30 ayat satu. Sebagai warga negara sepatut nya kita ikut menjaga keutuhan dan ke bhine tunggal ikaan kita seperti yang tercantum pada pasal, jika untuk saat ini seperti nya tidak bisa karena tidak ada perang, tapi jika kita melakukan ini untuk melawan Covid-19 ya itu sudah sepatutnya, sudah seharusnya. Jadi sebagai warga negara yang baik tentu kita juga ingin yang terbaik bagi bangsa kita, gotong royong itu jati diri kita.

Resensi Dari Ngalian ke Sendowo


Judul: Dari Ngalian ke Sendowo

Penulis: Nh. Dini

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2015

ISBN: 978-602-03-1651-2


Nh. Dini yang bernama panjang Nurhayati Sri Hardini adalah penulis perempuan kenamaan Indonesia. Ia mulai menulis sejak tahun 1951, ketika masih duduk di bangku kelas II SMP. “Pendurhaka” adalah tulisannya yang pertama dimuat di majalah Kisah dan mendapat sorotan dari H.B.Jassin; sedangkan kumpulan cerita pendeknya, Dua Dunia, diterbitkan pada tahun 1956 ketika beliau masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Di usia remaja beliau bekerja sebagai pramugari di Garuda Indonesia Airways, lalu menikah dengan Yves Coffin, seorang diplomat Prancis, dan dikaruniai sepasang anak, Marie Claire Lintang dan Pierre Louis Padang. Beliau juga memiliki dan membangun sebuah pondok baca di Semarang. 

Dari Ngalian ke Sendowo, buku ini berkisah tentang kehidupannya di Ngalian sebelum pindah hingga ia pindah ke Sendowo yang ditulis oleh nya bernuansa seperti catatan harian yang terkumpul lalu dimuat dalam sebuah buku dengan bahasa yang mudah dicernah, dan layak untuk dibaca oleh pembacanya. Meskipun tidak dalam tulisan nya tidak seutuhnya tertulis atau tertata secara runtut. Tapi cerita atau kisah yang dituturkannya dalam buku bisa dinikmati oleh pembaca. Dalam buku ini mengajarkan jika menulis buku harian itu dirasa perlu untuk mengetahui mengapa, kenapa ada masalah dan bagaimana cara untuk mengatasi semua masalah dikemudian hari, atau bahkan bisa mempengaruhi orang lain untuk mengikuti bagaimana ia harus mengatasi semua persoalan. 

Buku ini diawali kisah di saat ia harus menjalankan operasi gigi yang diharuskan oleh dokter sebab dalam pertumbuhan gigi untuk orang pada umumnya gigi orang dewasa tumbuh sebanyak 32 buah, tapi untuk giginya sendiri hanya ada  27, sebab lima buah gigi gerahamnya tidak tumbuh secara normal, melainkan tumbuh di dalam gusinya, hal ini yang membuat rasa ngilu dalam gusinya, dan harus sesegera mungkin dicabut, dengan cara operasi pengangkatan gigi. Dalam beberapa hari saat ia dirawat di rumah sakit. Beliau memiliki kenalan, seorang pasien yang satu kamar dengan nya. Kebetulan pasien tersebut adalah pembaca setia buku tulisan nya. Saat operasi akan dijalankan ia memberi kan, lebih tepatnya menitipkan barang bawaan seperti perhiasannya. Beruntung ia menemukan orang baru yang dapat dipercaya. Dalam perawatan yang dijalaninya ia memiliki sanak saudara yang juga seorang dokter gigi dan yang mengoprasinya saat itu.

Ia sangat bersyukur bertemu dan berjumpa dengan orang yang baik dan peduli padanya. Ya banyak hal yang bisa disyukuri. Tak cuma itu, orang baik bisa ditemui dengan banyak nya relasi dan bagaimana cara kita menghadapi orang lain, maka begitulah orang lain akan menghadapi kita, bagaimana kita menghargai orang lain tentu kita akan dihargai. Tapi tidak menutup kemungkinan akan terjadi kebalikannya. 

Seperti yang terjadi sudah-sudah, ia begitu mudah mendapat bantuan dari saudara-saudara nya, entah itu saudara kandung, saudara karena tali pernikahan atau saudara yang memang orang asing dan tidak memiliki ikatan apapun dengan nya. Ketika saat ia memiliki penyakit di mana terdapat batu di dalam empedu, ia pun harus melakukan operasi dan biaya yang harus dikeluarkan tidak lah sedikit. Maka iapun di beri bantuan oleh teman temannya. 

Ia sangat prihatin pada sastra Indonesia yang tidak dihargai dengan pantas. Semua itu ia ketahui saat ia menjadi pembicara atau narasumber dalam sebuah seminar, ia tidak diajak untuk berfoto bahkan anak anak diharuskan untuk tidak mengganggunya, bahkan di kalangan guru gurupun banyak yang tidak peduli, dan kebanyakan orang menganggap bahwa seni dalam sastra hanyalah puisi yang lain tidak. 

 Kurangnya minat masyarakat Indonesia dengan kegiatan tulis menulis, sangat dipengaruhi oleh lingkungan, dari lingkungan keluarga hingga lingkungan tempat tinggal. Seperti yang ia utarakan dalam tulisan nya tentang hubungan nya dengan H.B. Jassin 

"Budaya menulis surat tidak asing bagi kami sekeluarga. Ketika kami akan menjalani ulangan atau tes di sekolah, orangtua mengarahkan kami untuk meminta restu kepada Uwak atau Kakek maupun Paman dan Bibi. Hingga sekarang, saya masih hafal doa-doa untuk mengencerkan otak di saat belajar, diberikan oleh Pak Wo, kakak ibu kami." Dapat dilihat begitu penting nya keluarga dalam sebuah kegiatan. Ia mudah mengritik seseorang namun juga memikirkan mengapa orang harus melakukan hal demikian. Semisal saat ia terkena musibah ketika HP yang ia punya hilang saat seorang tukang pos datang, ia masih berpikir untuk tidak memberi tahu siapa pencurinya meskipun ia sudah tahu. 

Buku dengan sampul bungah dan warna-warni dan tulisan dari satu kisah ke kisah yang lain. Ia bisa menempatkan penghubung dari kisah ke kisah yang lain dengan rapi, dan jika di lihat ada beberapa kisah yang mungkin sebelumnya sudah ada di buku atau cerpen yang sebelumnya. Saya menyimpulkan sedemikian rupa sebab di beberapa halaman buku terdapat penjelasan beberapa karyanya. Seperti ketika ia menjelaskan tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita nya. Seperti dalam peristiwa yang hampir sama dengan cerita atau buku yang lain. 

Buku ini sangat cocok bagi orang yang gemar membaca. Mungkin buku ini sulit jika dibaca hanya separuh cerita. Itu dikarenakan banyak nya cerita yang berlanjut, dan habis lalu dilanjutkan ke cerita selanjutnya. Buku ini cocok untuk semua usia, dan menurutku buku ini lain dari pada buku yang pernah saya baca. 

Rabu, 18 November 2020

Jaminan Kesehatan Seharusnya Merata.

Masyarakat Indonesia pada saat ini masih kurang diperhatian dan mendapat perhatian dalam bidang kesehatan. Tidak hanya di masa pandemi saat ini saja, tetapi sebelum itu perhatian pemerintah Indonesia pun masih kurang terhadap kesehatan. Hanya saja seakan lebih terlihat lagi untuk saat ini. Namun usaha- usaha mereka saat ini belum bisa dirasakan oleh semua kalangan masyarakat Indonesia. Saat ini hasil yang ada tidak begitu memuaskan, terutama adanya ketimpangan dan ketidak adilan dalam pembagiannya.  Seperti sudah diketahui kebanyakan orang kartu Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN, selain JKN ada pula Kartu Indonesia Sehat. Kedua kartu ini bisa mempermudah seseorang untuk mendapat layanan kesehatan, tentu usaha dari pemerintah ini sangat disambut oleh masyarakat. Dan tidak hanya itu rakyat pun harus saling membantu bagi yang mampu maupun tidak. Gotong royong, itu adalah ciri khas orang Indonesia, sepatutnya dilestarikan. Sepatut nya diberikan kesempatan untuk mendapat fasilitas kesehatan dari pemerintah maupun swasta seperti dokter, rumah sakit. Setidaknya diberi keringanan untuk membayar, atau menabung untuk asuransi dalam hal ini biaya yang kita keluar kan kita tabung bsa kita pergunakan di saat kita tidak memiliki 

Hingga saat ini masih terdapat kecacatan dalam proses pelaksanaan akses jaminan ini, dimulai dari pendaftaran hingga untuk mendapatkan pelayanannya. Beberapa masyarakat tidak bisa mendapatkan pelayanan yang sesuai dan harus diberikan kepada yang ber hak, hal ini dikarenakan proses yang ribet dan ada beberapa masalah lainnya yang menghambat jalannya proses.  Untuk proses sendiri itu dikarenakan ketidak pahaman warga, dan kurang nya pendampingan dari mereka yang berkewajiban mensosialisasikan  semisal , setidaknya tokoh masyarakat dari yang terkecil Rukun Tetangga (RT) hingga ke tingkatan yang lebih tinggi. Setidaknya ketika mengurus Kartu Indonesia Sehat pendampingan terhadap warga, tentunya untuk memberikan pemahaman mengenai ketentuan yang berlaku dalam pendaftaran hingga akhir proses. 

Di Indonesia kini masih ada beberapa warga yang mengeluhkan sulitnya mengakses kartu jaminan kesehatan ini. Terlihat dari hasil survei oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan litbang Kompas mengenai pandangan masyarakat Indonesia, yang dilakukan pada Juli 2020, hingga Agustus 2020, menunjukkan bahwa sebanyak 72,4 persen responden menyatakan mudah mencapai fasilitas kesehatan JKN. Sedang kan untuk kesulitan 19,8 persen responden yang kesulitan mengakses fasilitas jaminan kesehatan.  Pada Indonesia bagian Timur memiliki kecenderungan kesulitan akses kesehatan. Ini biasanya disebabkan oleh jarak dan terpencilnya suatu wilayah hingga menyulitkan untuk mengakses fasilitas kesehatan ini. Ditambah lagi kurangnya ketersediaan ketenagakerja kesehatan di daerah Indonesia bagian Timur dan Tengah. Kurangnya dokter, perawat dan ketenaga kerjaan kesehatan lainnya ditambah sulitnya medan yang harus ditempuh oleh masyarakat maupun dokter harus menempuh jarak atau pun halangan yang lainnya. 

Hasil dari survei yang dilakukan oleh komnas HAM,  masyarakat di bagian Timur masih diharuskan membayar pajak sebesar yang sama dengan masyarakat lainnya. Tentu saja hal ini dirasa tidak adil bagi mereka. Sebab pembayaran pajak yang sama sedang hasil yang diperoleh tidak sesuai , pihak lain yang sama-sama membayar pajak yang setara, tetapi tidak dapat hasil yang sesuai. Sebanyak 55,8 persen responden mengungkapkan fasilitas kesehatan yang masih kekurangan fasilitas. Kesulitan itu akan dipersulit lagi dengan adanya pembayaran uang iuran yang bisa dibilang berbelit. Beberapa diantaranya pengajuan dan sulitnya akses untuk mendaftar atau dalam prosesnya yang sulit, dan beberapa warga yang tidak memahami. Meskipun begitu pemerintah masih mencoba untuk menyetarakan dan meratakan kesehatan yang ada di Indonesia supaya rakyat Indonesia bisa memperoleh secara menyeluruh. 

Kemudahan mengakses fasilitas dan pelayanan yang ada tentunya memiliki tempat penting bagi masyarakat, karena masyarakat Indonesia berhak mendapat kan hak hak yang telah disepakati oleh pemerintah. Termasuk juga dalam hal memperoleh layanan kesehatan. Namun nyatanya hingga saat ini pemerataan kesehatan bagi masyarakat belum bisa dilaksanakan dengan menyeluruh. Terbukti dari responden yang memperoleh kemudahan dalam mengakses layanan dan fasilitas kesehatan meskipun begitu beberapa daerah yang tidak berad di daerah Timur masih ada beberapa kawasan yang sulit untuk dimaksuki oleh tenaga kerja medis. Seperti yang sudah dijelaskan terkendala akses maksuk kebanyakan dikarenakan lintasan atau medan yang tempuh menuju suatu daerah terpencil membutuhkan kehati-hatian lebih, dan akses yang sulit dijangkau. Di beberapa daerah pun masih kurang dalam bentuk fasilitas yang kurang memadai, dan tenaga medis yang kurang kompeten. 

Kesehatan adalah hal yang paling terpenting dalam diri manusia, dalam bermasyarakat pun penting. Tidak hanya di Indonesia tetapi juga di selruh penjuru dunia. Pemerintahan pun masih harus mencapai target semaksimal mungkin, sebagai manusia dan warga negara kita sebagai rakyat pastinya akan mendukunng penuh langkah dari pemerintah selama itu masih berada pada tempat nya, tidak melenceng dari peri kemanusiaan. Adanya kartu Indonesia sehat (KIS) Kartu jaminan kesehatan nasional  atau yang disingkat JKN, dan Badan Penyelenggara Jamina Sosial adalah bukti kecil kebaktian mereka kepada masyarakat. Untuk masyarakat umum diharapkan untuk selalu membantu satu sama lain, dah lebih memperkuat lagi, dan rakyat juga diharapkan untuk selalu menunaikan kewajiban membayar pajak.

Selasa, 17 November 2020

Dendam dan Rindu Itu Sama Saja.

 Judul: Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas

Penulis: Eka Kurniawan

Penerbit: Gramedia Pustaka

Tahun Terbit: 2014, Jakarta. 

ISBN: 978 602 03 0393 2


Eka Kurniawan lahir di Tasikmalaya, 1975. Ia menyelesaikan studi dari Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1999), dengan skripsi yang kemudian terbit menjadi buku berjudul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (1999). Ia menulis buku ini diperuntukan untuk sang istri , Ratih Kumala.

Pada bagian cover terlihat seekor burung yang tertidur begitu lelap. Di atas burung yang tertidur terdapat tulisan Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, dengan warna yang terbilang mencolok dan kontras satu sama lain. Pemilihan warna ini tentunya menarik pembaca buku untuk membaca bukunya. Sampul buku ini adalah gambaran salah satu bagian cerita di mana Mono Ompong sangat menyukai desain gambar pada truk yang dikendarainya, truk milik Ajo Kawir. Pada sampul belakang seperti kebanyakan buku, terdapat sepenggal cerita. Bukan saja mengisahkan secara singkat namun,  daya tarik dari sinopsisnya adalah pemilihan katanya yang menggugah rasa penasaran pembaca.  

Kisah berawal saat dua bocah usia awal belasan Ajo Kawir dan Si Tokek, di mana di usia ini anak-anak itu sudah menginjak masa remaja. Keduanya pada malam itu mengintip dua polisi yang sedang melakukan rudapaksa terhadap Rona Merah, seorang perempuan dengan gangguan jiwa saat setelah ia ditinggalkan oleh suaminya Agus Klobot, sahabat Iwan Angsa ayah dari Si Tokek.  Sebuah hal yang tak pernah diduga oleh kedua bocah itu pun terjadi. Kemaluan Ajo Kawir tidak bisa berdiri. Tentu nya hal ini membuat Ajo Kawir sedih saat semua usahanya sia-sia. Beberapa usaha itu seperti ia mencoba mengoleskan cabai rawit pada kemaluannya, membiarkan kemaluannya disengat oleh lebah, bukannya bisa berdiri, tetapi ia hanya bisa berteriak karena tersiksa. Sebagai sahabat Si Tokek mencoba menghibur Ajo Kawir. 

Rasa sakit itu bertambah kala ia bertemu dengan Iteung. Gadis yang melawannya saat ia ingin menghukum Pak Lebe, seorang juragan tambak. Pertemuan yang diawali dengan pertarungan keduanya membuat mereka semakin dekat satu sama lain. Saling mengirim lagu lewat radio, jalan-jalan.  Ajo Kawir menyadari jika hubungan keduanya adalah kesalahan, Iteungnya akan terluka jika mengetahui bahwa dirinya tidak bisa ngaceng. Namanya cinta, Iteung siap menerima apapun kekurangan Ajo Kawir. Mereka pun memutuskan untuk menikah. Keduanya menikah melakukan hubungan dan Iteung memperoleh kepuasan hanya dengan jari-jari Ajo Kawir. Kesetiaan Iteung diuji, Iteung ingin lebih dari sekedar keahlian jari Ajo Kawir.  

Satu hari Iteung pulang dari rumah sakit, ketika di depan pintu ia disambut oleh Ajo Kawir, dan mengatakan apa yang telah terjadi. Ia telah berkata jujur, bahwa ia hamil. Ajo Kawir terkejut mendengar pengakuan istrinya, ia pun memutuskan untuk pergi, dan mencari  Si Macan, orang yang akan ia bunuh dengan bayaran tinggi. Setelah ia berhasil membunuh si macan ia harus mendekam di penjara, keluar dari penjara ia memutuskan untuk menjadi supir truk. Berprofesi sebagai supir truk Ajo kawir bertemu dengan mono Ompong, keneknya. Diam-diam Ajo Kawir sayang pada anak Iteung, tiap si tokek menemuinya setidaknya sahabatnya membawa foto  anaknya, untuk dipajang si langit-langit truk. Ia akan memandangnya tiap sebelum tidur dan saat bangun. Belasan tahun di perantauan ia memutuskan untuk kembali saat Iteung telah dibebaskan dari penjara karena telah membunuh Budi Baik, dan setelah apa yang terjadi pada Mono Ompong seusai bertarung dengan Si Kumbang.  Hari pembebasan Iteung tiba. Ia diberi tahu jika ia membunuh dua polisi yang membuat burung suaminya tidur panjang mungkin bisa membangunkannya. Di hari pembebasannya adalah hari pembalasan atas penderitaan yang ditanggungnya dan suaminya. Harusnya bertemu untuk melepas rindu, tapi tidak masalah jika pembalasan dendam bisa mewujudkan rindu yang lain. 

Iteung, adalah perempuan yang pemberani, lebih dari kata pemberani. Sebab ia membalaskan dendam nya dari kesalahannya sendiri ia telah berkhianat, mungkin kebanyakan orang menganggap itu sebuah kesalahan, mungkin salah saat dia membunuh Budi Baik. Tapi untuk membunuh dua polisi yang menyebabkan itu semua, menurutku itu lebih baik, lagi pula siapa yang akan menghukum keduanya sedangkan Rona Merah sudah meninggal, dan Ajo Kawir sudah tobat. Si Tokek pun tidak mungkin berani, dan membuka masa kelamnya dan menuntut nya selalu merasa bersalah pada Ajo Kawir.  Tidak ada yang bisa menghukum keduanya semua bukti sudah hilang. 

Dalam buku ini banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran dalam hidup, bahkan burung yang tertidur pun bisa jadi pelajaran. Ketika masih bisa melakukan setidaknya ia tidak menggunakannya secara berlebihan, sekiranya tidak digunakan di waktu yang tidak tepat. Paling utama pentingnya sosialisasi tentang seksual itu penting. Sayang sekali pada dewasa ini orang tua masih menganggap hal itu adalah hal yang tabu. Bahkan lebih jauh lagi ada orang tua yang  menganggap  bahwa pendidikan seksual itu mengajari anak untuk berbuat zina. 

Tidak hanya itu dalam buku ini terdapat beberapa tokoh yang memiliki kelainan seksual. Semisal Ajo Kawir, dalam buku ini Ajo Kawir mengalami gangguan seksual yaitu impoten, yang artinya ia tak bisa bergairah oleh gairah seks.  Selanjutnya, Mono Ompong, ia mengalami gangguan seksual ejakulasi dini. Ada lagi satu, Si Kumbang supir truk ia begitu suka pada Mono Ompong, laki-laki suka dengan sesama jenis. 

Terdapat beberapa bagian yang terbilang di luar nalar. Contohnya saat Ajo Kawir berbicara dengan kemaluannya.  Cerita dari sudut pandang seekor cicak yang berada di sel, tentu hal ini tak mungkin terjadi tapi adanya cerita ini bisa membuat pembaca lebih santai saat membaca bab menegangkan pada buku. Di balik itu semua penulisan cerita yang loncat dari satu cerita ke cerita yang lain dan alur yang maju mundur mengharuskan pembaca untuk membaca berulang kali, untuk memahami kisah dari tokoh utama.  Karena dalam sampul sudah terdapat kategori tulisan dewasa, maka buku ini tidak cocok untuk anak di bawa umur. 

Rabu, 11 November 2020

Jika Hukum Diblur

 Jika Hukum Diblur 

  

Judul: The Trial (Proses)

Penulis: Franz Kafka

Penerjemah: Sigit Susanto

Penerbit: Gramedia Pustaka, Jakarta

Tahun Terbit: Cetakan I, 2016

ISBN: 978-602-03-2895-9. 



Bagaimana jadinya jika kita  disalahkan dengan sebuah tuduhan yang tidak pernah kita lakukan sebelumnya, pasti bingung.  Apalagi jika ditangkap dan dijadikan terdakwa, sedang kita tidak tahu apa yang jadi kesalahan kita?  Untuk pertama kali pasti terbesit di pikiran "aku tidak salah, ngapain ditahan? kalau tidak "pasti aku difitnah," atau bisa jadi "mereka salah orang? Dan masih ada banyak pertanyaan berderet, tapi yang terjadi pertama adalah kebingungan, hal ini yang terjadi pada Joseph K, dalam buku Proses karya Franz Kafka. 

"Proses" buku karangan Franz Kafka, penulis ternama di abad IX. Buku "Proses"  diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya (Bahasa Jerman) ke dalam bahasa Indonesia oleh Sigit Susanto. Proses, ditulis oleh Kafka dalam kurun waktu enam bulan terhitung sejak  Agustus 1914 hingga Januari 1915.  Kafka sendiri adalah lulusan jurusan  hukum, yang pastinya paham dengan hukum -hukum yang ada. Dan segala kebobrokan hukum di sana, atau hukum di negara lain. 

Dalam buku ini kisah berawal saat tuan Joseph K, seorang pekerja di devisi kepegawaian salah satu bank, didatangi oleh dua orang asing di apartemennya untuk ditahan. Meskipun ia hanya sebagai tahanan rumah, sebelum proses pengadilannya dijalankan. Pada saat penangkapan terjadi K sendiri pun tidak tahu apa alasan nya, kenapa ia ditangkap? Tak mengerti apa kesalahannya, sehingga ia pun tak merasa perlu berlebihan menghadapinya. Namun, dari waktu ke waktu semakin K membiarkan urusannya, bukan sesuai harapannya akan segera selesai, persidangan yang menyangkut nama baiknya tambah rumit.  

Perjumpaan K dengan orang-orang hukum (meskipun sebenarnya ia tak ingin peduli dengan kasusnya) semakin ia mengenal banyaknya orang yang mengelilinginya dalam sidangnya, ia tahu banyak orang hukum yang tidak berkompeten menangani kasusnya. Bukannya membaik tapi semakin memperburuk. Saat ia menyewa pengacara atas saran pamannya, pengacara Huld  yang juga teman karib pamannya, hanya ia temui sesekali saja. 

Dalam pertemuannya itu ia dan pengacara hanya berbincang sedikit. Kebobrokan hukum lebih terlihat lagi disaat ia harus datang menemui kepengadilan,  banyak kejutan yang ia temui beberapa di antaranya, tempat pengadilannya yang menurut K tidak layak disebut tempat pengadilan.  Semakin pasti  saat tuduhan yang diberikan tidak ada kejelasan.  Lebih gila lagi saat K pergi ke pengadilan untuk kedua kalinya, ia dikejutkan oleh isi buku hakim pengadilan, tulisan seperti tulisan anak kecil terdapat gambaran tidak senonoh di buku yang ada di meja hakim. Banyak sekali anak buah pengadilan yang semakin hari semakin memperburuk perkara. 

Hukum yang tidak transparan dan tidak jelas, sering terjadi dalam peradilan. Hal ini juga dikarenakan masyarakat yang tidak mengerti hukum yang ada di suatu negara. Ketidak transparan hukum negara pernah terjadi di Indonesia, pada masa Orde Baru. Banyak orang-orang yang hilang tanpa tahu kemana, dan bagaimana saat ini keadaannya, kuburan  orang hilang pun tidak pernah diketahui. 

Sayang sekali dalam buku yang memiliki 10 bab ini, dari awal hingga akhir ada beberapa paragraf, yang satu paragrafnya bisa mencapai beberapa halaman.  Ditambah lagi tulisan yang kecil-kecil dan terlalu rapat membuat mata saya jadi sakit, dan sulit menentukan baris selanjutnya dari kata terakhir. Selanjutnya ada beberapa bab yang tidak  tuntas dan menggantung untuk dilanjutkan ke bab selanjutnya sangatlah membingungkan. Biarpun sedikit untuk halamannya tapi karena banyaknya kata dalam satu paragraf membuat orang lebih cepat baca. 

Penulisan Kafka yang terbilang rumit, namun kerumitan itu tertutupi oleh ditailnya penulisan latar entah itu dari  waktu, suasana bahkan tempat dengan penggambaran yang sesuai dengan apa yang dilihat oleh K. Cerita yang menarik, dikemas secara apik. Pada bab terakhir terakhir dari kisa peradilan K yang rumit dan ia lalui selama setahun semuanya sia-sia. 

Buku yang cukup rumit ini lebih asyik dibaca oleh pembaca yang suka dengan cerita yang seperti puzle, pembaca diharuskan merangkai satu persatu masalah, dan meluruskan sesuai imajinasi yang coba dibawakan oleh pengarang.  Pastinya sesuai dengan imajinasi pembaca. 

Senin, 20 Juli 2020

Lantas, untuk?

Bukan lagi aku berjalan melewati kenyataan

Tapi aku sudah lari untuk menyusuri hidup

Tanpa menikmati dan mengerti makna sesungguhnya

Aku tahu jika gambaran tentang hidup kedepannya akan selalu pudar. 

Apa yang kini ku tapaki, itulah yang nyata.

Yang berlalu akan jadi semu dan meghilang

Menjadi kosong yang mulai dan akan terlupakan

Pilihan kata mu telah menyaring dan memilah

Mana yang harus dipilih dan mana yang berhak terpilih.

Lalu, aku menyadari jika jalan ku bukan lagi untukku 
Lantas, untuk siapa?

Minggu, 19 Juli 2020

A1

Dia berdiri di sana, tiga langkah dari tempatku duduk kini. Dia menghela napas untuk kesekian kali. Mungkin untuk menenangkan diri. Dan sekali lagi ia melangkah. Ku lirik dia, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu, tapi sebagai saudara yang baik, dan ingin jadi pendengar yang baik pula, aku memilih diam tanpa bertanya.  Tangannya mengepal. Apakah ia marah? sepertinya begitu.  

Seolah tidak peduli, ku lihat dia mondar-mandir di depan ku. Okey ini sudah sangat mengganggu. "Ngapain sih, pusing nih liatnya" kalau sudah begini nada membentak yang ku luncurkan. Dan yah berhasil, dia berhenti, dan duduk, di sebelah ku. Meskipun masih bungkam. 

" kamu tahu Alda?" tanya nya menatap lurus kedepan, wajahnya bertambah kaku. Sebenarnya aku benci ekspresinya seperti itu.  "Alda?" tanya ku memastikan, dia mengangguk sekali, kurasa dia gadis kesekian yang ada di antara kakakku. "Gadis cantik" jawabku sekenanya, amarah yang terpancar di wajahnya membuatku nyaliku yang semenit yang lalu berani membentaknya kini menciut.  

"Kakakmu itu bener-bener keterlaluan." sepersekian detik aku menoleh memastikan kata itu terucap dari bibirnya. " ya keterlaluan sekali dia itu."  ku lirik lagi dia, ingin sekali aku berkata, kamu juga, tapi ku tahu, bukan dirinya yang dia maksud,  'kalian tuh kakakku' ya termasuk dia juga keterlaluan.   "Kenapa?" . "Kakakmu itu, dia beraninya jalan sama Alda. Kamu tahu sudah berapa cewek yang aku dekati, selalu berakhir kencan dengan Bryan. Bryan lagi, Bryan lagi. Sudah kasih sayang mama papa untuk dia, sekarang Alda juga diembat."  

" maksudnya, gimana gimana?" humm terkadang terpikir kalau semisal dia bukan kakakku mending aku pacarin, dari pada selalu disakiti cewek. Tapi, sebenarnya aku tahu maksud Kak Bryan, dia ingin kakak ku yang satu ini dapat pasangan yang terbaik, bukan sekedar suka uangnya.  Tapi, hal ini sangat jauh dari apa yang dikatakan oleh Ryan. Mungkin mereka tidak tahu jika sebenarnya mereka mencoba saling melindungi. 

Aku ini adik, tapi bukan adik, cuma jadi tempat sampah untuk semua keluhan keduanya. Padahal sejujurnya aku pengen banget curhat ini itu, tapi pastinya aku yang jadi tempat sampah. 

Jumat, 17 Juli 2020

Jangan lakukan, itu tidak baik!

Bukan suatu yang penting. 

Mungkin kamu pernah diberi tahu orang tua, jika ini itu tidak baik! Jangan pernah lakukan ini! Eh jangan macem-macem. Percaya sama orang yang lebih tua! Kalau orang tua bilang ini tidak baik ya sudah turutin. 

Bosen ya? Sudah sebal diceramahin sama orang tua? 

Ya sama saya juga merasakan. Tapi sudah kah kita tahu apa sebab banyak orang tua seperti itu. Bisa mungkin saya menyebutnya orang tua yang kolot. Hampir tiap hari selalu mendengar wejangan orang tua, tentang ini lah itulah. Kok balik lagi.  

Bukan lagi rahasia umum jika, orang tua sudah memiliki banyak pengalaman. Tapi bagaimana jika orang tua kita, yang selalu kita dengar wejangannya (Ya meskipun masuk telinga kanan keluar lewat telinga kiri, atau sebaliknya) dalam semasa hidupnya hanya selalu berdiam diri di rumah, kan tambah susah. Nyuruh ini itu kok gak punya pengalaman sama sekali. 

Jika saya pribadi lebih suka, dengerin wejangan tapi yang ngasih tahu, ya tahu. Bukan hanya ngasih tahu, terus ditanya kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu tanpa ada sebab. Okey, jika berbicara tentang alasan orang tua (saya tidak ingin pakai kata logika, terlalu tinggi) yang bisa dibilang "aneh" bin "apaan sih". Masih saya terima. 

Misal, orang duduk di depan pintu, yang katanya orang tua bisa ngalangin, atau kita dibikin gak dapet jodoh. Ya kali jodoh ada hubungan dengan pintu (mungkin bisa). Hal semacam ini mungkin sudah lumrah di kehidupan sehari-hari tapi jika dipikir lagi, masa iya pintu buat jalan kok dihalangi sama orang duduk, kan gak sopan, orang pengen lewat, harus permisi? Apa gak ada tempat lain yang lebih luas daripada pintu?

Ada satu lagi, orang nyapu gak bersih katanya suaminya brewokan. Coba ingat, kenapa orang harus nyapu, lalu apa tujuan dari nyapu itu tadi? Nyapukan niatnya biar bersih, bukan untuk dibiarin kotor. Saya sendiri yang bingung. Masa iya nyapu tapi gak bersih, percum tak bergun itu namanya. Gak guna nyapu, tapi gak bersih. 

Benar jika orang tua menasehatu itu selalu benar? Enggak kan? Coba kita pahami kenapa begini kenapa begitu, biar nanti ketika, kita berada pada tahap sebagai orang tua,ketika anak mu bertanya, nggak cuma bisa ngarang cerita yang sebenarnya dulu belum pernah kamu pertanyakan. 

Kamis, 16 Juli 2020

Catatan kecil untuk Eka

Semoga kamu baca....
Tapi aku nggak yakin....

Aku tahu, kamu saat ini sedang jatuh-jatuh nya. Namun untuk saat ini juga kamu harus ingat hidup mu itu mahal.  Gak ada orang yang bisa beli hidup mu.  Gak ada. 

Aku udah lihat hasil ujianmu, parah banget, payah banget, astaga. Tapi, jangan lakukan hal buruk, coba ingat untuk apa kamu masuk jurusan ini. Jurusan mu itu jurusan berat. Ya mana mungkin jurusan yang sangat berperi kemanusiaan mu itu. Hanya didapat dari ngerjain tugas daring, langsung lulus nilai A atau B tapi gak pernah ke pakek dalam kehidupan sehari-hari, kan gimana gitu. Setidaknya, kamu belajar (kamu pernah belajar?) kayaknya gak pernah. 

Sekarang kamu bayangin, semisal kamu dapet nilai A atau minimal B, tapi itu hasil nyontek, guna gak? Saat ini jika ada banyak waktu,  kita akan berbicara soal percaya diri pada kemampuan. Karena aku di sini tahu jika seharusnya kamu jujur gitu pada diri sendiri, sudah bener gak usahamu saat ini. Gimana mau berhasil usaha aja gak ada? Nyontek usaha? Saya akan menjawab iya, tapi usaha ini itu berpondasi tanah gambut,  bukan kokoh seperti bambu.  

Mulai lah belajar, jangan lakuin hal yang gak guna untuk mengahiri segalanya... 


Kamis, 30 April 2020

Kuliah Daring: Masalah dalam Masalah

Kebijakan dari kampus UTM (Universitas Trunojoyo Madura) diperpanjang hingga bulan Juni kedepan. Kebijakan berupa pembelajaran daring, yang dianggap sebagai jalan keluar untuk situasi saat ini. Sebab himbauan dari pemerintah untuk jaga jarak guna memutus penyebaran COVID-19, yang saat ini sudah menjadi wabah di seluruh dunia, menyerang semua kalangan tidak hanya yang kaya yang miskin pun kena dampaknya. Semua profesi pun bisa menjadi korban dari virus korona ini.

Tapi segala kebijakan tentunya ada konsekuensi yang menyertai. Seperti kebijakan dari kampus, untuk melakukan pembelajaran daring. Pembelajaran secara daring tidak sepenuhnya efektif untuk dijadikan sebagai tolok ukur keaktifan mahasiswa. Perpanjangan masa pembelajaran daring, bisa dikatakan sangat merugikan dari pihak pengajar maupun mahasiswa itu sendiri. Bagaimana tidak jika dilihat dari metode pembelajaran terbaik dari satu individu, sedang cara pembelajaran individu itu berbeda dari satu dengan yang lain. Tak hanya itu ada beberapa kendala seperti;

1. Absensi mahasiswa

Pada masa kuliah daring ini, presensi mahasiswa tergantung pada kehadiran absensi di aplikasi semata, serta penugasan yang secara mendadak diberikan oleh dosen. Namun, perkuliahan secara daring dibutuhkannya sinyal yang bagus dan lancar serta penggunaan aplikasi yang disesuaikan dengan keinginan dosen, juga mempersulit pembelajaran. Pemakaian aplikasi tiap dosen yang berbeda. Bisa dilhat dari dampaknya, mahasiswa bisa curang. Seperti hanya sekedar absen lalu ditinggal tanpa mengikuti atau pun menyimak penjelasan dosen maupun teman yang persentasi. Ini terlihat jika mahasiswa lebih mementingkan kehadiran dari pada pemahaman akan materi yang diberikan.

2. Waktu mengajar dosen yang tidak sesuai jadwal

Waktu mengajar dosen yang tidak sesuai jadwal yang ada, tidak semua memang. Tapi ada juga dosen yang seperti ini. Pada jadwal tercantum jam 10.00, bisa molor dari jam yang seharusnya. Ada juga dosen yang memberi tugas dan waktu pengumpulan yang terbilang memudahkan mahasiswa, hingga mahasiswa menganggap remeh dan tidak mengerjakan tugas. Waktu pembelajaran yang tidak sesuai jadwal ini juga bisa mempengaruhi kehadiran mahasiswa, akibatnya jika mahasiswa yang memilik masalah dan gangguan pada sinyal ataupun kuota, tidak bisa mengumpulkan tugas, atau hanya sekedar absen.

3. Tugas yang cenderung dipersulit.

Penugasan dari dosen pun dipersulit, tak hanya dari segi kehadiran mahasiswa dan tugas yang diberikan tetapi juga untuk pengumpulan tugas yang terbilang tidak mudah. Ini juga dikarenakan sinyal. Seperti yang kita tahu jika pengumpulan tugas melalui jaringan di butuhkannya sinyal yang bagu dan lancar. Ada pula dosen yang mengharuskan mahasiswa menulis ulang apa yang dikerjakan.

4. Pemakaian aplikasi yang kurang efektif.

Kuliah daring ini tentunya membutuhkan aplikasi, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya jika kuliah daring ini dibutuhkan aplikasi yang menurut dosen efektif. Namun, pada kenyataannya aplikasi yang digunakan dosen satu dengan yang lain, itu sesuai dengan keinginan dosen. Bagaimana jika tiap mata kuliah berbeda aplikasi. Versi dari ponsel yang digunakan oleh mahasiswa pun terkadang tidak mendukung aplikasi yang dijadikan media belajar.
Jika hal ini masih tetap berlanjut, apa tidak merugikan? Apalagi bagi mahasiswa dan dosen yang diharuskan membeli kuota, sedang kita tahu jika di utm sendiri bantuan masih belum tersalurkan. Pemberhentian kegiatan belajar mengajar secara offline sudah diberlakukan sejak Maret ini belum juga ada bantuan, memang sudah ada surat edaran jika akan diberikan bantuan sebesar 150 ribu rupiah per mahasiswa yang membutuhkan. Namun masih banyak hambatan yang mengganggu kelancaran untuk memberikan bantuan. Beberapa mahasiswa yang mengeluhkan tidak punya ATM ataupun buku ATM yang tertinggal di kos dan lain sebagainya, ini dikarenakan kebijakan yang mengharuskan penggunaan rekening milik mahasiswa pribadi.

Kebijakan dari rektor yang dimulai dari tanggal 17 Maret 2020 yang saat ini diperpanjang hingga Juni mendatang. Jika dihitung kita akan melaksanakan ini, kurang lebih tiga bulan waktu yang tidak sebentar memang. Bagaimana supaya kuliah secara online atau daring ini agar lebih efektif, apalagi sebentar lagi kita akan memasuki ujian akhir semester. Pada ujian tengah semester yang lalu saja belum maksimal. Saat ini nilai ip tergantung pada sinyal. Serta pemahaman materi yang di berikan tidak seutuhnya paham, hanya berbagi power point, beri ringkasan materi, jika mahasiswa diberi kesempatan untuk bertanya belum tentu dibalas untuk dijawab, meskipun dijawab tidak semua mahasiswa memahami materi.

Semakin diperpanjang, akan semakin mempersulitkan, kebijakan perpanjangan waktu ini terlalu jauh dari waktu yang diberikan oleh Gubernur Jawa Timur. Tapi jika perpanjangan adalah solusi yang lebih baik, sebaiknya bantuan segera disalurkan, terutama dalam bentuk kuota, karena jika dengan pulsa takutnya ketika data tidak mati habis, bisa menyedot pulsa, jadinya pulsa habis dan tidak dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa yang membutuhkan.

Waspada memang lebih baik diawal, ikuti anjuran pemerintah adalah yang terbaik. Untuk keputusan selanjutnya, semoga termasuk keputusan yang terbaik, disamping itu dosen maupun pihak pengelola bisa lebih aktif untuk mengevaluasi mahasiswanya. Jika ada laporan keterlambatan karena sinyal mohon dimaklumi.

Tetap berdo'a kepada Tuhan , berdo'a segera diangkat pandemi ini, yang sehat tetap sehat, yang sakit cepat sembuh, bagi keluarga korban yang meninggal semoga diberi ketabahan.

Semangat pahlawan yang kini berjuang di garda terdepan.

Kamis, 12 Desember 2019

Tentang Aku

Hallo

Kenalan yuk

Nama saya Eka Apriliyah. Lahir tanggal 24 April 2000, tapi diakta sampai ijazah ditulis 27 April. Lahir di Surabaya, tapi di akta di tulis Lamongan, tidak salah juga buat aktanya di Lamongan pada tahun 2005 disaat aku akan masuk sekolah TK dulu masih dengan sebutan nol kecil nolbesar, dulu temen temen ku tahun lahirnya banyak yang 1999. Jadi gak ngerasa ketuaan.

Eka Apriliyah,sebenarnya tidak cuma dua nama tersebut tapi ada satu kata lagi, NUGROHO, kata bapak dulu jika aku ditanya sama temen teman-teman nya bapak aku pasti jawab Eka Apriliyah Nugroho. Aku ingin cerita nih di saat usia ku ke empat tahun, aku pernah di undang ke RS DR. Soetomo Surabaya, waktu itu ada pemberian hadiah. Awal nya ada kakak cewek, dia itu jago main piano. Dipangg zdfil ke depan, disuruh sama mc berdiri dibelakangnya mc, terus maju ke depan keatas panggung. Nah sewaktu giliran aku dipanggil aku lari kebelakang mc, mcnya bingung nyari eh ternyata di belakangnya, namanya juga anak kecil, gak salah kan. Semua penonton ketawa, waktu itu aku pakek baju merah bawanya Oren kuning garis garis seperti nanas, kerudung putih. Yang sekarang jadi bantal di rumah. Jadi bantalnya itu ada sakunya biasanya saya nyimpen uang di situ, saya biarkan sampai lupa, biar nanti semisal gak punya uang ehe ada gitu.

Aku pingin nyari lagu yang emang dari dulu gak nemu samasekali, dan cuma ada liriknya,

Tepiskan nurani hatimu
Agar ku terbebas belenggu
Dan pergi mencari sesuatu
Yang hilang...
(*)
Biarlah sampai aku lelah
Membawa bebanku yang ada
Tetapi s’lama masih ada
Keyakinanku...
(#)
Kini percuma kuredam rasa lukaku
Bila air mataku tiada lagi berguna...
Reff:
Di persimpangan jalan itu
Berpacu diriku disitu
Kupilih yang mana terbaik untukku
Bila memang harus berpisah
[Interlude]

Back to: (*), (#), Reff
Kupilih yang mana terbaik untukku
Bila memang harus berpisah...




Yang tahu pliis kasih komen di bawah

Jumat, 06 Desember 2019

FILSAFAT ABAD PERTENGAHAN

FILSAFAT ABAD PERTENGAHAN

Filsafat ini berkembang pada tahun 300M-1300M disebut abad pertengahan sebab masa ini terjadi diantara filsafat Yunani kuno dan Renaisans. Kemunculan filsafat ini ditandai perpecahan Romawi. Antar Roma dan Berzhantium Timur(Turki). Terjadi penyebaran Agama Kristen kepada penduduk yang menganut filsafat Yunani.


Tokoh-tokoh di masa itu.

a. St. Agustinus 345-430 M

Ia melihat para penduduk yang masih menganut pemikiran Yunani. Agustinus mencoba mengkristenkan Plato. Pemikiran Plato akan adanya dunia idealis, yang menganggap ide ide, dia menyebarkan bahwa Tuhan menciptakan dari ketiadaan.

b. Thomas Aquinas. 1225-1274 M

Aquinas ini mengkristenkan Aristoteles. Dengan pemikirannya tentang bahwa adanya penggerak alam semesta, dan semua ada di Bible.

Kedua tokoh ini mengajarkan bahwa apa yang di maksud oleh para filsuf yang pemikiran dianut oleh masyarakat ada pada Bible. Tujuannya agar tidak ada konflik antara filsafat kuno dan dengan agama.

# Pada abad ini ada Teologi Iman dan Teologi Alam

Teologi Iman: iman ada pada Bible.
Teologi Alam: sesuatu yang sudah dianggap salah sejak awal.

Paus- papa- pendeta- pastor- wakil Tuhan.

Wewenang Gereja

~ siapa saja yang melawan hukum Gereja akan dihukum berat. (Adanya dukungan kerajaan memperkuat sistem ini, sebab paus adalah wakil Kristus.

Akibatnya
-para penganutnya menganut kepercayaan buta. Jadi mereka menganut tapi tidak tahu makna dari apa yang mereka anut.

-keterbatasan kebebasan berpikir, penganut Gereja harus mentaati dan mengamini apa yang di Bible.

-dari keterbatasan dalam berpikir mengakibatkan kemunduran berpikir masyarakat pada saat itu.

Apa yang terjadi pada masa kejayaan abad pertengahan?

- masa penindasan
-masa feodalisme
- Tuan tanah memperkerjakan buruhnya dengan paksa.
- ilmu, akal pikiran dikekang.

Sungguh miris dari kekacauan diatas masyarakat tentunya ada yang melawan kebijakan Gereja.

Galileo Galilei adalah salah satu tokoh yang menentang bahwa dalam Bible bahwa bumi itu sebagai pusat Tata Surya.

Dalam buku Galileo Galilei dan Tata Surya ia berpendapat bahwa:

-Matahari sebagai pusat tata Surya , mengacu kepada Kopernicus pemahaman dari Yunani.
-Galileo menciptakan teropong dengan menyatukan dua cermin cembung.

Karena menentang Gereja, Galileo dihukum di penjara seumur hidup, hingga ia kehilangan penglihatan nya.


Relevansi
* Pendidikan yang di kekang, keinginan Tahuan itu di kekang.

* Kemunduran

*Pengaruh Arab di Spanyol dan Afrika
*Penaklukkan Konstantinopel


NB: Dalam tulisan ini masih banyak kesalahan dan kekurangan, tambahan, kritik dan saran sangat dibutuhkan.

Sedikit banyak aku sedih

Tiga hari yang lalu semuanya terasa memuakan, marah, kesal, resah, cemas, hadir dalam waktu bersamaan dengan perasaan was-was jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. Entah mengapa, tidak ada tanda-tanda apapun. Kekesalan itu berawal dari, sebenernya aku juga gak tau apa penyebabnya. Tapi sudahlah. Mungkin aku hanya bisa nyeritain sedikit saja.

Tidak ada yang istimewa ketika aku terbangun mungkin. Selalu saja merasakan was-was, sedih, selalu ingin marah. Yang paling bikin kesel aku tuh takut,jika aku sudah sedih, pastinya emosimu sulit untuk dikontrol bagus sendiri. Kalau di rumah aku bisa teriak dan setidaknya aku bisa nangis. Tapi disini. Aku akan nangis dimana? Di kamar banyak orang. Kalau misalnya ke sekret tambah yah rasa malulah yang membuat aku seakan baik baik saja.

Tidak. Aku sedang tidak baik -baik saja.

Mungkin bukan hanya aku tapi semua orang, semua orang pasti takut kehilangan. Sama. Aku juga takut kehilangan. Takut ditinggalkan. Sering kali pikiran ini kacau. Seperti. Lebih baik aku yang meninggalkan? Atau yang ditinggalkan. Ah mungkin meninggalkan tidak menyakitkan.

Terkadang mencoba menghibur diri dengan sesuatu yang lucu. Tapi gimana pun itu gak bisa. Nonton video lucu ketawa, tapi air mata masih menetes. Kan aneh ketawa tapi nangis.

Tiap malem pasti kebawah tangga. Lumayan buat wifian tapi masih sama. Nangis mulu kerjaannya. Dimana tempat disini yang tenang tanpa gangguan?

Minggu, 01 Desember 2019

Resensi buku Ibunda.

Judul. : Ibunda

Pengarang. : Maxim Gorki

Penerjemah. :Pramoedya Ananta Toer

Penerbit. : Kalyanamitra

Tahun terbit. :2002

Tebal hal :513

Ibunda. Buku yang diterjemahkan Pramoedya Ananta Toer, dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia. Buku ini menceritakan tentang seorang wanita yang mengalami kekerasan oleh suaminya. Suaminyaa adalah seorang pemabuk. Suami nya ini digambarkan sebagai seorang pekerja dan orang yang kuat, serta semena mena. Sedang Palgia(Ibunda) gambaran di novel ini adalah seorang wanita paruh baya, yang berbadan miring dan memiliki luka di dahi nya.

Suatu hari anaknya yang bernama Pavel atau sering di panggilnya Pasja. Pulang dengan keadaan mabuk. Namun dalam keadaan ini membuat Pavel merasakan sakit, mual dan pening. Lambat laun terjadi perbedaan pada diri Pavel. Dia selalu pergi dan kembali dengan membawa banyak buku yang selalu dinbawa satu-persatu. Dan ia sembunyikan. Sebab pada saat itu buku seperti itu sangat di larang. Karena buku itulah terbesit dalam diri Pavel untuk memberontak pada pemerintahan yang menurutnya semena mena.

Sosok Ibunda di sini sosok ibu yang sesungguhnya, meskipun cemas akan anaknya, namun keteguhan nya hatinya, untuk membela kebenaran patut dicontoh. Pergaulan sang anak yang terbilang cukup baik. Dimana tidak ada anak laki-laki yang sehormat itu pada ibunya, itu adalah suatu hal yang membuat hatinya tergetar. Sungguh penuh konflik yang terjadi di saat itu sehingga dalam buku ini tercipta suatu hal yang sangat menarik. Diharapkan akan diterjemahkan nya buku ini bisa membuat hati para wanita di Indonesia. Mengingat kan saya pada sosok Marsinah yang menjeput ajal dengan cara yang hampir sama oleh kisah Ibunda.

Tentang penulis buku, buku ini ditulis oleh Maxim Gorki dalam bahasa Rusia berjudul Mat. Gorki ini mememiliki kedekatan dengan Lenin dan Tolstoy, meskipun sejalan dengan pemikiran Lenin tapi Gorki menentang pada kekerasan yang dilakukan oleh para tokoh komunis, sedang ia memiliki jalannya sendiri. Sehingga ia diasingkan.

Hukum kok dibeli?

 Opini Perlindungan pada korban itu penting.  Media sosial kerap kali dijadikan orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tidak kri...